duapuluh dua

45 27 3
                                        

Suara adzan subuh berkumandang, menandakan waktu untuk memulai hari dengan berkah. Dini dan Alana segera bangun dari tidur mereka, saling mengingatkan untuk sholat subuh.

Setelah berwudhu, mereka melaksanakan sholat berjamaah di kontrakan. Usai sholat, Dini merapikan mukena sementara Alana menggulung sajadah.

"Din, lo mau sarapan apa?" tanya Alana sambil berjalan ke dapur.

Dini meregangkan tubuhnya. "Terserah lo deh, yang penting ada teh anget."

Alana mengangguk dan mulai menyiapkan sarapan sederhana. Telur dadar, nasi goreng, dan teh hangat pun siap di meja. Mereka duduk bersama, menikmati pagi yang masih sunyi sebelum kembali sibuk di warung seblak.

Alana memandangi layar ponselnya dengan tatapan datar. Pesan dari Raka muncul begitu saja di pagi yang seharusnya tenang.

"Pagi, Alana. Sudah sarapan?
Sudah siap bertemu gue?
Gue yakin lu kangen gue kan?"

Alana mendesah panjang. "Bisa gak sih, satu hari aja tanpa drama?" gumamnya sambil meletakkan ponselnya di meja tanpa membalas pesan itu.

Dini yang sedang menyeruput teh hangat menoleh ke arah Alana. "Kenapa? Raka lagi?"

Alana hanya mengangguk lemas. "Udah lah, gue gak mau mikirin. Hari ini gue mau fokus kerja."

Dini terkikik. "Yakin lo bisa? Kalo dia tiba-tiba nongol di warung, gimana?"

Alana menatap sahabatnya dengan kesal. "Ya gue cabein beneran matanya."

Dini tertawa, sementara Alana hanya bisa menghela napas pasrah. Sepertinya hari ini bakal panjang.

Dini mulai menghidupkan motornya, sementara Alana duduk di belakang, masih mencoba melupakan pesan Raka. Mereka segera menuju pasar untuk membeli bahan-bahan yang kurang.

"Lo yakin gak mau sekalian beli sesuatu buat ngelempar Raka kalo dia muncul?" canda Dini saat mereka memilih bahan.

Alana mendelik. "Mending beli cabai lebih banyak. Kali aja bisa buat dia kapok."

Setelah selesai belanja, mereka segera kembali ke warung seblak. Sesampainya di sana, tampak sudah ada beberapa pelanggan yang menunggu.

"Wah, rame juga pagi-pagi begini," gumam Alana sambil turun dari motor.

Dini mengangguk.

Tanpa membuang waktu, mereka langsung masuk dan mulai membantu karyawan untuk melayani pelanggan. Alana berharap hari ini bisa berjalan lancar tanpa gangguan.

Di tengah kesibukan mereka melayani pembeli, salah satu karyawan mendekati Alana.

"Kak, ada yang pesan 30 porsi buat acara kelas. Katanya anak SMA, level 3 semua."

Alana mengangguk cepat. "Oke, siapin bahan buat 30 porsi. Pastikan topping-nya sesuai pesanan mereka."

Dini yang sedang membuat pesanan lain menoleh. "Wah, laris manis nih! Anak-anak SMA tuh emang suka yang pedes-pedes."

Alana tersenyum tipis. "Iya, semoga mereka kuat makan level 3."

Mereka pun segera menyiapkan pesanan dengan cepat dan rapi. Warung seblak semakin ramai, suara obrolan para pelanggan bercampur dengan aroma kuah pedas yang menggoda.

"Al, kayaknya hari ini bakal sibuk banget. Siap?" tanya Dini.

Alana menghela napas dan mengikat celemeknya lebih erat. "Siap lah! Fokus jualan dulu, jangan mikirin yang aneh-aneh."

Dini terkekeh. "Iya iya, semoga gak ada drama lagi hari ini."

Tapi dalam hati, Alana sedikit waspada. Karena setiap kali dia berharap hari berjalan normal, selalu ada saja hal yang terjadi.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang