Langkah Verdi baru beberapa meter menjauh ketika suara Dini memanggilnya dengan nada yang jauh lebih tegas dari sebelumnya.
“Verdi, tunggu.”
Verdi berhenti.
Bahunya naik turun pelan sebelum akhirnya ia menoleh.
Dini mendekat, kali ini tanpa ragu.
“Gue nggak bisa pura-pura nggak ketemu lo,” kata Dini.
“Lo ngilang, Alana sakit, kepikiran, diteror orang nggak jelas, dan sekarang lo muncul cuma buat senyum terus pergi?”
Verdi terdiam.
“Gue butuh kejelasan,” lanjut Dini, suaranya sedikit bergetar tapi tetap tegas.
“Bukan buat gue. Buat Alana.”
Verdi menghela nafas panjang. Matanya menerawang ke jalanan yang basah sisa hujan semalam.
“Gue nggak ninggalin dia karena nggak peduli,” ucapnya pelan.
“Justru karena gue peduli.”
Dini menatapnya tajam.
“Itu alasan paling klise, Ver.”
Verdi tersenyum pahit.
“Gue tau.”
Dia lalu menunduk sebentar, seperti sedang mengumpulkan keberanian.
“Gue lagi kejebak masalah. Masalah yang kalau Alana tau dia bakal ikut kena.”
“Masalah apa?”
Verdi menggeleng.
“Yang jelas bukan soal cewek lain.”
Dini terdiam. Ingatannya langsung melayang ke foto-foto yang pernah dikirim ke Alana.
“Foto itu?” tanya Dini lirih.
Verdi mengangguk.
“Di rekayasa.”
“Dan foto lo babak belur?”
Verdi terdiam lebih lama.Lalu berkata jujur,
“Itu nyata.”
Dini menutup mulutnya refleks.
“Gue sengaja menjauh,” katanya lagi.
“Gue blokir nomor, gue ilang. Bukan karena gue nggak mau balik tapi karena gue mau dia aman.”
Dini menarik napas panjang, menahan emosi.
“Tapi lo nggak bisa mutusin semuanya sepihak,” katanya pelan.
“Lo bikin dia ngerasa ditinggal.”
Verdi mengangguk.“Gue salah.”
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar rapuh.
“Tapi sekarang dia punya Arkana,” lanjutnya.
“Dan itu cukup buat gue mundur.”
Dini menatap Verdi lama.
“Lo tau nggak,” kata Dini akhirnya.
“Alana senyum. Tapi bukan berarti lukanya sembuh.”
Verdi memejamkan mata sejenak.
“Gue nggak minta lo balik sekarang,” lanjut Dini.
“Tapi jangan jadi pengecut. Kalo lo masih peduli, setidaknya kasih dia satu kejelasan.”
Verdi membuka mata.
Tatapannya basah, tapi tekadnya jelas.
“Gue akan temuin dia,” katanya akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
