Di sudut kota,Verdi tengah berdua dengan seseorang yang tidak pernah ia harapkan. Verdi tahu ia seharusnya tidak berada di taman itu.Tapi hidup kadang menyeret seseorang kembali ke masa lalu tanpa izin.“Ver… pelan,” suara perempuan di kursi roda itu terdengar lirih.
Verdi mengangguk, memperlambat langkah. Tangannya tetap di sandaran kursi roda jaraknya ia jaga, sedekat yang perlu, sejauh yang ia mampu.Perempuan yang dulu pernah dekat dengan dia.Perempuan yang sampai hari ini masih menyimpan perasaan kepadanya.
Kecelakaan itu mengubah segalanya. Bukan hanya kaki Raina yang tak lagi bisa melangkah, tapi juga hidup yang ia rencanakan.
“Ver kamu capek?” tanya Raina pelan, senyum kecilnya rapuh.
“Enggak,” jawab Verdi cepat. Kebohongan yang terlalu sering ia ucapkan.
Ia melihat ke depan lalu mendengar namanya dipanggil dari kejauhan.
Alana.Dunia berhenti sesaat.
Verdi menoleh. Di sana Alana berdiri, berlari, terlambat beberapa detik. Mata mereka bertemu dan Verdi tahu, semua yang tak sempat ia jelaskan kini terbaca salah.
“Ver ada siapa?” Raina menoleh mengikuti arah pandangnya.
“Nggak apa-apa,” jawab Verdi, lalu memberi isyarat pada sopir. “Kita berangkat.”
Di dalam mobil, Raina duduk diam. Kepalanya bersandar ke kaca, wajahnya pucat.
“Perempuan itu… siapa?” tanyanya hati-hati.
Verdi menghela nafas panjang. “Mungkin orang salah manggil.”
Raina tersenyum kecil, puas dengan setengah pengakuan itu. Tangannya meraih tangan Verdi, menggenggamnya erat.
Verdi membiarkan.Bukan karena ingin
tapi karena ia harus menjadi penopang, meski hatinya sendiri tak lagi tinggal di sana.Mobil melaju meninggalkan taman.
Dan Verdi kembali menghilang dari hidup Alana,bukan karena ia tak peduli,melainkan karena ada luka lama
yang memaksanya hadir kembali di tempat yang tak lagi ia pilih.
batin Verdi, fokus pada ingatan tentang Alana yang berlari mengejarnya di taman, rasa bersalah, rindu yang ditahan, dan keputusan yang tak pernah benar-benar ia ikhlaskan.
Beberapa Detik yang Tertinggal
Verdi masih melihatnya.Bahkan ketika mobil melaju dan lampu-lampu kota mulai menyala, bayangan itu tak pergi. Alana berlari di antara orang-orang, memanggil namanya dengan suara yang tertahan oleh napas yang hampir habis.Ia terlambat beberapa detik.Dan Verdi
selalu menjadi orang yang pergi lebih dulu.
Tangannya masih terasa hangat oleh genggaman Raina, tapi pikirannya tertinggal di taman itu.
Pada langkah-langkah Alana yang nekat. Pada tatapan mata yang memintanya berhenti bukan untuk memiliki, hanya untuk memastikan.
Verdi menelan ludah. Dadanya sesak.
Ia ingin turun dari mobil. Ingin membuka pintu dan berteriak agar waktu menunggu sebentar saja. Ingin mengatakan bahwa kepergiannya bukan karena tak peduli melainkan karena terlalu banyak hal yang mengikat.Tapi mobil terus berjalan.
Raina bersandar di sampingnya, rapuh, membutuhkan. Dan Verdi tahu, satu keputusan salah saja bisa membuat luka lain terbuka.”Maaf, Al”.
Bukan kata yang bisa ia ucapkan.
Hanya doa yang ia simpan.
Jika Alana tahu betapa beratnya beberapa detik itu, mungkin ia akan berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Karena Verdi pergi bukan karena ia tak layak dikejar melainkan karena ia terlalu takut menariknya masuk ke hidup yang penuh kewajiban dan rasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Fiksi Remaja📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
