Alana menegakkan tubuhnya, mencoba menenangkan napas yang sedikit cepat.
Dini, yang dari tadi mengamati, mendekat dengan senyum jahil.
“Eh, Al siapa itu? Cowok baru yang kepo tadi ya?” ujar Dini
Alana mendesah panjang, menatap dapur sejenak sebelum menatap Dini.
“nggak tau. Cuma pelanggan biasa.”
“Pelanggan biasa? Wajahnya keren, tapi Al, lo langsung panik tadi pas dia minta nomor lo.” Dini menepuk bahu Alana sambil terkekeh.
Alana cuma menghela nafas panjang lagi.
“Gue nggak nyaman jadi gue nolak. Selesai.”
Dini tersenyum sambil duduk di kursi, menonton Alana sebentar.
“Hahaha tegas juga ya lo. Tapi muka lo merah-merah tadi pas dia deketin, lan.”
Alana menoleh singkat, sedikit kesal.
“Din… jangan komentar yang nggak perlu.”
Dini tertawa pelan, tetap duduk sambil memantau Alana yang kembali sibuk membereskan meja dan menyiapkan bahan seblak.
Sementara itu, Arkana duduk di meja sambil menatap Alana dari jauh.
Dia menahan senyum tipis, merasa tertarik dengan cara Alana bersikap: tegas, sopan, tapi tetap tidak memberi ruang berlebihan.
Dalam hati, Arkana bertekad:
“Cewek ini menarik. Aku bakal balik lagi ke sini.”
Alana, di sisi lain, sama sekali belum menyadari bahwa setiap gerakannya diamati dengan penuh perhatian.
Dia hanya berusaha fokus pada pekerjaan, menahan perasaan campur aduk yang muncul saat Arkana mendekat sebentar tadi.
Suasana warung tetap ramai, tapi kali ini ada ketegangan kecil—antara ketegasan Alana, rasa penasaran Arkana, dan tawa kecil Dini yang tahu banyak tapi pura-pura tidak peduli.
Sejak hari itu, Arkana benar-benar sering muncul di warung seblak.
Kadang siang bolong, kadang sore menjelang magrib, kadang malam, pas warung lagi rame-ramenya.Awalnya Alana mengira cuma kebetulan.Tapi hari ketiga berturut-turut Arkana duduk di meja yang sama, Alana mulai sadar ini bukan kebetulan.Dini yang paling cepat menangkap pola itu.
“Al… gue nanya serius. Itu cowok kayaknya ngejar lo deh.”
Alana menuang kuah ke mangkuk dengan sedikit lebih keras dari biasanya.
“Nggak usah lebay. Dia cuma suka seblak.”
“Iya… seblak. Bukan lo.”
Dini nyengir.
Alana melirik tajam.
Dini tertawa kecil dan kembali melayani pelanggan.
Arkana sendiri nggak pernah aneh. Nggak maksa. Nggak nanya nomor lagi. Nggak duduk terlalu dekat.
Dia cuma… datang.
Pesan seblak level rendah—kadang level 1, kadang level 2. Duduk rapi. Main ponsel sebentar. Sesekali melirik Alana, tapi selalu pura-pura sibuk kalau ketahuan.
Suatu sore, saat warung agak sepi, Arkana berdiri dan menghampiri meja dapur.
“Hari ini capek ya?” ujar arkana
Alana menoleh sekilas.
“Semua hari capek.”
Jawaban itu datar, tapi Arkana malah tersenyum.
“Berarti kamu kuat.”
Alana berhenti sebentar mengaduk kuah.
Menatap Arkana, lalu kembali fokus.
“Makan aja. Nanti keburu dingin.”
Arkana mengangguk patuh.
Tapi sebelum balik ke meja, dia berkata pelan.“Tenang. Gue nggak bakal ganggu.”
Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, Alana merasa sedikit lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
