Sembilan puluh tiga

9 2 0
                                        

Beberapa hari kemudian, Verdi datang tidak sendirian.Di tangannya ada sebuah amplop coklat yang tampak sudah lama disimpan. Sudut-sudutnya sedikit terlipat, seperti sering dibuka lalu ditutup kembali.

Dini dan Faris mengikutinya masuk ke kamar Alana.

“Kami mau coba sesuatu,” kata Dini pelan, matanya menatap Alana penuh harap namun tetap hati-hati.

Alana mengangguk. “Tidak apa-apa.”

Verdi duduk di kursi, lalu membuka amplop itu perlahan. Satu per satu, foto-foto dicetak ia keluarkan dan letakkan di atas meja kecil disamping ranjang.

Foto pertama: Alana tertawa lepas di depan warung seblak, celemeknya sedikit miring.

Alana menatapnya lama.

“Itu… aku?” tanyanya ragu.

Dini mengangguk cepat. “Iya. Kamu lagi kesel karena hujan berhenti, tapi tetap ketawa.”

Verdi tidak menyela.

Foto kedua: Alana duduk di bangku taman, cahaya lampu jalan jatuh lembut di pipinya.

Faris menghela napas kecil. “Foto itu diambil waktu kamu kecapekan.”

Alana menyentuh foto itu dengan ujung jarinya. Dadanya terasa hangat, seperti disentuh sesuatu yang hampir dikenal.

Foto ketiga membuat tangannya bergetar.

Alana berdiri di bawah hujan gerimis,foto menatap langit di sekelilingnya kunang-kunang,dan foto Alana menatap bulan yang indah.

Matanya berkaca-kaca tanpa ia mengerti sebabnya.

“Kenapa aku ingin menangis?” bisiknya.

Dini menelan ludah. “Karena malam itu kamu sangat bahagia, Al.”

Verdi akhirnya bersuara, sangat pelan.

“Aku sering mengambil fotomu diam-diam,” katanya jujur. “Bukan karena kamu sadar, tapi karena aku takut lupa bagaimana caranya mengagumimu.”

Alana menatapnya terkejut.

Ia kembali melihat foto-foto itu, satu per satu.Ada Alana yang tertawa.Alana yang diam.Ada Alana yang terlihat lelah, namun tetap hidup.

Lalu sebuah foto terakhir diletakkan Verdi paling akhir.Foto itu memperlihatkan Alana duduk membelakangi kamera, menatap senja. Di bukit , bayangan Verdi terlihat samar, berdiri tidak jauh darinya.

Alana menahan napas.

“Ada… perasaan aneh di sini,” katanya sambil menekan dadanya. “Seperti… seseorang pernah berdiri di sampingku lama sekali.”

Sunyi turun.Dini dan Faris saling berpandangan, memilih diam.

Verdi tidak mendekat.

“Kalau kamu tidak ingat, tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Foto-foto ini hanya ingin bilang satu hal.”

Alana mengangkat wajahnya.

“Apa?”

Bahunya Verdi naik turun saat ia menghela napas.

“Bahwa kamu pernah sangat dicintai. Dengan tenang. Tanpa syarat.”

Air mata Alana jatuh satu per satu.

“Aku masih belum ingat siapa kamu bagiku dulu,” katanya jujur, suaranya bergetar. “Tapi aku tahu orang yang mengambil foto-foto ini tidak mungkin orang asing.”

Verdi tersenyum, pahit namun penuh syukur.

“Itu sudah cukup,” katanya lirih.

Ingatan Alana belum kembali.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang