Malamnya, Verdi, Faris, dan beberapa teman dekatnya berkumpul di warung. Alana dan Dini ikut, semuanya siap untuk menyelidiki mengapa karyawan warung menghilang dan warung sepi.
Verdi menatap sekeliling warung yang kosong. “Kita mulai dari dalam dulu. Cek gudang, dapur, dan kamar belakang.
Siapa tau ada petunjuk,” katanya serius.
Dini mengangguk, membawa senter kecil. Alana ikut, menahan napas pelan.
Mereka melangkah ke gudang, membuka pintu perlahan. Beberapa bungkusan rempah bergeser, tapi tidak ada yang mencurigakan.
“Semua rapi tapi anehnya, nggak ada barang yang hilang,” kata Alana sambil menatap rak.
Dini mengangguk. “Iya tapi kenapa mereka semua nggak muncul? Semua karyawan nggak ada yang bisa dihubungi.”
Faris menepuk bahu Verdi. “Kita harus cek rumah masing-masing juga. Siapa tau mereka diintimidasi, atau diperingatkan orang lain.”
Verdi menelan ludah. “Aku takut ini ada hubungannya sama Arkana” gumamnya pelan.
Alana menatapnya tegas. “Kita nggak boleh takut. Kita hadapi sama-sama. Kalau ada yang mencoba ganggu, kita ketahuan lebih dulu.”
Teman-teman Verdi membagi tugas beberapa mengecek rumah karyawan, beberapa tetap di warung untuk jaga dan mengamati.
Dini dan Alana duduk di meja, menunggu kabar. Lampu warung hangat, tapi udara terasa tegang.
Tak lama, Faris datang kembali dengan satu ponsel di tangan. “Aku berhasil hubungi salah satu karyawan. Dia dia nggak bisa datang karena ada yang menakut-nakuti dia lewat telepon. Tapi dia nggak bilang siapa.”
Verdi menelan ludah. “Jadi ini serius. Ada yang sengaja bikin mereka takut.”
Alana menatap Verdi, memegang tangannya sebentar. “Kita nggak akan biarin mereka main-main sama warung kita. Kita selesaikan ini bareng.”
Verdi menatap Alana, lalu Faris, lalu teman-temannya. Semangat mereka mulai menyala lagi.
“Ya kita selesaikan sama-sama. Siapapun yang bikin takut, bakal ketahuan.”
Di luar, lampu jalan mulai berkelap-kelip, bayangan mereka memanjang. Warung yang sepi dan misterius itu kini menjadi markas kecil penyelidikan bersama, tempat tekad dan keberanian diuji.
Keesokan harinya, suasana warung seblak lebih tegang dari sebelumnya. Alana baru saja membuka ponselnya ketika Faris dan Verdi datang.
“ kamu udah liat ini?” tanya Faris, nada suaranya serius.
Alana menggeleng, penasaran tapi cemas. Faris menyerahkan ponsel. Layar menampilkan posting viral di media sosial foto Alana diedit dengan caption kasar, menghakimi, dan menghujat. Banyak komentar menghina dan memfitnahnya sebagai “murahan”.
Alana terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Matanya berkaca-kaca.
“Ini ini nggak mungkin kenapa kenapa mereka bisa nyebarin ini?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Verdi menatap layar itu, rahangnya menegang.
“Ini… keterlaluan. Siapa yang berani nyebarin ini?”
Faris menepuk bahu Alana pelan.
“Kita nggak boleh panik dulu, Lan. Ini cuma gosip, kita hadapi bareng. Nggak ada yang bisa ngerugiin kamu kalo kita tetap solid.”
Alana menatap Faris, tapi air matanya sulit dibendung.
“Ver… aku aku takut semua orang bakal benci aku”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
