Tiga puluh empat

18 7 0
                                        

Setelah laki-laki ber-hoodie hitam itu menghilang, Alana mencoba fokus bekerja.
Tapi pikirannya terus kembali ke kertas kecil itu.

Malam hari, ketika warung mulai agak sepi, Alana keluar ke parkiran untuk mengambil tisu di motor.

Angin sore terasa dingin entah karena cuaca, atau karena rasa takut yang menempel di tubuhnya.

Di jok belakang motornya, ada sesuatu yang tidak seharusnya ada
sebuah  gantungan kunci berwarna biru laut, bentuknya kepala doraemon .

Alana mengenal benda itu.

Itu adalah gantungan kunci milik Verdi, yang selalu tergantung bersama kunci lain nyai.

Alana memegangnya dengan tangan gemetar.

Di balik gantungan itu, ada secarik kertas kecil lagi, dilipat sangat rapi.

Alana mundur selangkah, nafasnya tercekat.

“Dini DIN!” panggilnya panik.

Dini segera keluar, melihat wajah Alana yang pucat.

“Kenapa lagi, Al?”

Alana menunjukkan gantungan kunci itu.

Dini langsung terdiam wajahnya berubah serius, jauh dari biasanya yang suka bercanda.

Alana menggeleng, matanya mulai berair.

“Din… kenapa semua kayak gini? Kenapa Verdi bisa kalau ini punyanya dia kenapa bisa ada di sini?”

Dini menarik napas panjang, menatap Alana dalam-dalam.

“Kita perlu cari bantuan, Al. Ini udah mencurigakan.”

Tapi Alana justru menatap gantungan kunci itu lebih lama.

Malam harinya ketika Alana dan Dini menutup pintu warung.

Lampu-lampu toko di sekitar sudah banyak yang padam, menyisakan suara motor lalu-lalang yang samar.

Alana masih memikirkan gantungan kunci Verdi yang ditemukan di motor tadi.

Rasanya dadanya tetap sesak sepanjang perjalanan pulang.

Sesampainya di depan kontrakan , keduanya terdiam.Di bawah pintu masuk ada sebuah amplop coklat tebal, agak basah karena hujan.

Dini langsung waspada.“Al jangan dipegang dulu. Ini mencurigakan.”

Tapi Alana sudah berjongkok, menarik amplop itu dengan tangan bergetar.

Tidak ada nama.Tidak ada tulisan.Hanya amplop polos yang terlalu sunyi.Mereka masuk ke dalam, mengunci pintu dua kali sebelum duduk di lantai.Dini duduk di sebelah Alana.“Buka tapi pelan-pelan.”

Alana merobek mulut amplop itu.Isinya adalah,tumpukan foto-foto.

Saat Alana membuka amplop itu, jantungnya seperti berhenti.

Foto pertama:
Verdi dan seorang perempuan berdiri sangat dekat. Perempuan itu tetap membelakangi kamera, tapi terlihat jelas ia menyentuh lengan Verdi lembut.

Foto kedua:
Mereka duduk di sebuah bangku taman malam hari.
Perempuan itu menyender sedikit ke arah Verdi. Verdi tidak memeluk, tapi tangannya ada di pinggir bahu perempuan itu, seolah menjaga keseimbangan.

Wajar tapi terlihat dekat.

Foto ketiga:
Perempuan itu memeluk verdi di motor.

Foto keempat:
Perempuan itu mengusap debu di jaket Verdi.
Kedekatan yang terlihat seperti intim tapi normal, tanpa tindakan berlebihan.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang