Tiga puluh tiga

16 7 0
                                        


Alana duduk di meja makan, masih pucat, tapi sedikit lebih baik setelah mandi dengan air hangat. Tangan kirinya memegang ponsel, ibu jarinya terus menekan tombol panggil yang sama nama yang sejak semalam tak kunjung memberi jawaban “Verdi.”

Nada sambung terdengar lagi.
Satu kali… dua kali…
Dan seperti sebelumnya tidak diangkat.

Alana menghela napas panjang, matanya menurun.
“Kenapa dia… nggak merespon sama sekali?” gumamnya lirih.

Dini yang sedang menuang teh hangat memperhatikan gelagat itu, tapi memilih menjaga suasana tetap ringan.
“Kamu makan dulu, Al nanti kalau sudah enakan baru mikir yang lain,” katanya lembut.

Alana mengangguk kecil, meski sorot matanya tetap terpaku pada layar ponsel.
Ia mencoba sekali lagi.
Kali ini bahkan langsung masuk ke pesan suara, seolah Verdi sengaja mematikan ponsel.

Perut Alana menegang.
Ada sesuatu yang tidak wajar.
Terlebih setelah pesan aneh tadi malam peringatan samar: jangan cari Verdi.

Asa di dadanya berkecamuk, antara takut dan penasaran.
“Dini… kamu pikir dia kenapa?” suara Alana nyaris bergetar.

Dini pura-pura sibuk mengambil telur dadar sambil menutupi kegugupan yang ia simpan sendiri tentang sosok berhoodie hitam yang ia lihat malam itu.
“Aku yakin Verdi cuma lagi sibuk. Atau HP-nya mati. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu,” jawabnya sambil tersenyum menenangkan.

Alana menatap meja, kedua tangannya menggenggam ponsel erat-erat.
Dalam hati ia berdoa, “Ya Allah… lindungi dia.”

Tapi rasa gelisah itu tidak membaik.
Justru makin menekan dadanya.

***

Satu minggu kemudian, kondisi Alana sudah jauh membaik. Wajahnya tidak lagi pucat dan badannya sudah kuat berdiri lama.
Pagi itu ia dan Dini bersiap kembali bekerja setelah beberapa hari libur.

“Aku kangen banget sama bau cabe di warung,” kata Alana sambil tertawa kecil.

Dini menghela nafas panjang. “Yang kangen mah pelanggan.”

Mereka berdua berjalan menuju warung seblak. Kali ini suasana berbeda—tidak sesepi yang dibayangkan, justru dari jauh terdengar suara keramaian kecil. Ada beberapa orang duduk di depan warung, menunggu buka.

Begitu mereka mendekat,Tia, salah satu karyawan, langsung menyambut dengan wajah lega.

“Teh Al! Teh Dini! Alhamdulillah sudah sehat!” seru Tia.

Alana tersenyum. “Iya, Ti. Makasih ya, kamu sama yang lain udah jaga warung.”

Tia mengangguk cepat. “Iya, Teh. Kita buka normal kok kemarin-kemarin. Cuman pelanggan banyak nanya… ehm…”
Tia ragu melanjutkan.

“Nanya apa?” Alana mengangkat alis.

“…nanya Verdi.”

Dini langsung memutar bola mata sambil tahan senyum.

Alana pura-pura datar. “Nanya kenapa?”

Tia mengangkat bahu. “Soalnya biasanya Teh Al berdua sama Kang Verdi kan? Banyak yang nyariin, katanya warung terasa beda kalau Kang Verdi nggak nongol.”

Alana membersihkan meja sambil sok cuek. “Dia bukan karyawan, jadi wajar kalau nggak ada.”

Tia terkekeh. “Iya, tapi tetap aja… biasanya kan nongol sambil bawa gitar.”

Dini nyengir. “Tuh, Al. Fans artis lokal kamu nyariin.”

pelanggan datang silih berganti, dan semua seperti kompak bertanya soal satu orang yang hilang dari peredaran:

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang