Keesokan paginya, suasana warung seblak kembali hidup.
Alana datang lebih awal dari biasanya.
Wajahnya terlihat pucat, tapi langkahnya tetap mantap.Mimpi semalam masih terngiang, membuat dadanya terasa berat setiap kali ia mengingatnya.
Dini memperhatikannya sambil menata meja. “Al, lo kenapa? Dari tadi bengong.”
“Gapapa,” jawab Alana singkat.
Padahal pikirannya penuh oleh satu nama.
Pesanan mulai berdatangan.
Uap seblak mengepul, suara cobek dan sendok beradu, obrolan pelanggan bercampur tawa.
Seorang pelanggan lama menoleh ke sekitar. “Bang Verdi belum datang ya hari ini?”
Alana terdiam sepersekian detik, lalu menjawab sambil terus bekerja, “Belum.”
“Tumben,” sahut yang lain. “Biasanya pagi gini udah petik gitar.”
Alana mengangguk kecil, mencoba biasa saja.
Tak lama, dua pelanggan perempuan duduk di meja depan. “Ka, kok hari ini sepi ya? Kayak kurang satu orang.”
Dini tertawa kecil, menutupi keganjilan. “Mungkin lagi sibuk.”
Alana menuang kuah seblak dengan tangan yang sedikit gemetar.
Mimpi itu masih menempel di kepalanya, membuat setiap detik terasa cemas.
Ia melirik ponselnya sebentar.
Tidak ada pesan dari Verdi.
“Cuma mimpi,” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Namun saat bel kecil di pintu berbunyi, jantung Alana refleks berdetak lebih cepat
harap dan takut bertabrakan di dadanya.
Ia mengangkat kepala.
Dan pagi itu,Alana menyadari satu hal
ketidakhadiran Verdi ternyata lebih berisik daripada kehadirannya.
Warung semakin ramai menjelang siang.
Kursi hampir terisi penuh, suara obrolan bertumpuk, dan pesanan datang silih berganti.
Di tengah kesibukan itu, pertanyaan yang sama terus muncul berulang, dari mulut yang berbeda.
“Ka, serius Bang Verdi udah balik?”
“Yang kemarin nyanyi itu beneran dia kan?”
“Fix ya, Bang Verdi gak ngilang lagi?”
Alana menata piring, berusaha tetap fokus. “Iya. Kemarin ke sini.”
Seorang pelanggan laki-laki tertawa lega. “Syukurlah. Warung ini terasa hidup lagi.”
Yang lain menimpali sambil tersenyum, “Kami kira cuma cameo doang, ternyata balik beneran.”
Seorang pelanggan perempuan bersandar di meja kasir. “Berarti besok-besok Bang Verdi nongkrong lagi dong?”
Alana berhenti sejenak, lalu menjawab jujur, “Gue gak tau.”
“Loh?”
“Bukannya udah baikan?”
Alana mengangkat bahu.
Dini yang mendengar itu melirik Alana sebentar, lalu membantu menengahi.
“Yang penting hari ini seblaknya enak, ya.”
Tawa kecil pecah, tapi pertanyaan tentang Verdi tak benar-benar berhenti.
Di sudut warung, sekelompok pelanggan Gen Z berbisik sambil buka ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Roman d'amour📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
