Empat puluh satu

13 7 0
                                        

Alana kembali beraktivitas, warung seblak ramai, tapi pikirannya kosong dan melayang. Nuansanya kontras ramai di luar, sunyi di dalam,yang tak Ia dengarkan

Setelah hari itu, hari-hari Alana berjalan seperti biasa setidaknya dari luar.

Warung seblak kembali ramai. Kursi-kursi terisi, suara tawa bercampur uap kuah pedas, dan sendok beradu dengan mangkuk.Namun Alana sering berhenti di tengah gerakannya.Sendok di tangannya terangkat, lalu diam terlalu lama.

“Teh, seblaknya satu lagi ya!”

Suara itu membuatnya tersentak. “Iya iya, sebentar.”Ia tersenyum tipis, lalu kembali bekerja. Tangannya bergerak otomatis, seolah sudah hafal tanpa perlu pikir. Tapi matanya kosong, menatap jauh ke titik yang tak ada.Bayangan sore itu muncul lagi.Mobil yang bergerak.

Tatapan singkat sebelum pergi.

“Al,” panggil Dini dari balik meja kasir, pelan tapi tegas.

Airnya hampir tumpah.Alana buru-buru mematikan kompor. Uap panas mengepul, membuat matanya perih atau mungkin itu bukan karena uap.

“Maaf,” gumamnya.

Seorang pelanggan menatap heran, tapi tak bertanya. 

Warung tetap ramai. Hidup tetap berjalan. Hanya Alana yang terasa tertinggal.Di sela-sela kesibukan, ia melamun lagi.Membayangkan jika langkahnya sedikit lebih cepat. Jika suaranya lebih keras. Jika waktu mau menunggu.

“Teh Alana?” Alana menoleh. 

“Sendoknya jatuh,” ujar pelanggan sambil tersenyum kecil.Alana tertawa singkat, kaku. “Oh, iya. Maaf.”

Ia mengambil sendok itu, tapi jemarinya bergetar.Ramai ternyata tidak selalu mengusir sepi.Kadang justru membuatnya semakin terasa.Dan di tengah warung seblak yang penuh suara, Alana terus bekerja sambil membawa pulang pikirannya ke satu sore yang tak pernah benar-benar selesai.

Warung seblak itu kembali ramai  Uap kuah mengepul, dan suara pesanan bersahutan. Alana berdiri di balik meja, tangannya bekerja tanpa jeda namun matanya tak benar-benar hadir.

Namum pertanyaan soal Verdi terus terlontar kan dari pelanggan,kemana Verdi,kenapa Verdi tidak muncul lagi dan masih banyak yang lain. 

Alana binggung menjawab dengan cara apa lagi,dia sendiri tidak tau apa yang terjadi sama Verdi.

“Seblak pedas satu” Kalimat itu terhenti.

Seorang laki-laki berdiri di depan meja. Tingginya menutup sebagian cahaya sore, membuat Alana mengangkat wajah.

Arkana.Kemeja gelapnya rapi, bahunya tegap, dan sorot matanya tenang, tapi tajam. Bukan tatapan orang yang sekadar datang membeli makanan.

“Seblak biasa,” ucapnya singkat.

Alana mengangguk. “Iya.”

Ia berbalik ke kompor. Sendok di tangannya sempat berhenti, lalu bergerak lagi. Arkana memperhatikannya dalam diam cara Alana beberapa kali melamun, cara bahunya turun seperti menahan lelah yang tak kelihatan.

“Dari tadi melamun,” kata Arkana pelan.

Alana tersentak. “Hah?”

“Nggak apa-apa,” lanjut Arkana,

“Cuma… kelihatan capek.”

Alana tersenyum tipis.

“Bukan itu,” Arkana menimpali, tanpa menekan. “Matamu kosong.”

Alana terdiam. Kuah mendidih mengeluarkan bunyi pelan. Dini melirik dari kasir, menangkap ketegangan yang halus itu.

Arkana akhirnya mulai makan. Tapi sebelum suapan pertama, ia berkata lagi lebih pelan, seolah hanya untuk mereka berdua.

 “Kalau ada yang ngejar pikiranmu jangan biarin dia menang lama-lama,kamu berhak bahagia,jangan biarkan dia merenggut kebahagiaan itu.”

Alana berhenti bergerak.

Untuk sesaat, di tengah warung yang ramai, kata-kata itu jatuh tepat di tempat yang paling sunyi di dadanya.

Dan Arkana tanpa banyak tanya, tanpa memaksa menjadi orang pertama hari itu yang benar-benar melihatnya.

Hampir setiap hari, di jam yang hampir sama, ia duduk di bangku yang sama dan memesan menu yang sama, tak banyak variasi, tak banyak kata.

Dan sejak itu, tanpa disadari Alana, kehadiran Arkana menjadi bagian dari hari-harinya,seperti bunyi kuah mendidih,

seperti kursi kayu yang selalu terisi,

seperti seseorang yang memilih tinggal

tanpa harus diminta.

Alana mulai belajar menegur pikirannya sendiri.Setiap kali nama itu muncul, ia menarik napas dan mengingatkan dirinya pelan-pelan,bahwa Verdi bukan siapa-siapanya.

Tapi hasilnya  pikiran nya tetap mengingat verdi,Bagaimana verdi datang dalam hidup nya,membuat dia nya yang awalnya suram menjadi bercahaya

Ia berdiri di balik warung seblak, mengaduk kuah yang mendidih. Ramai masih sama, suara masih riuh, dan hari-hari tetap berjalan. Hanya kali ini, Alana tak lagi membiarkan bayangan itu tinggal terlalu lama Ia kehilangan, iya.

Tapi bukan karena memiliki.Yang ia rasakan hanyalah kehilangan versi lama dari sesuatu yang pernah berarti bukan seseorang yang berhak ia tuntut untuk tinggal.Verdi bukan miliknya.

Bayangan sore itu kembali muncul di pikiran Alana , tapi tak lagi sekuat dulu. Verdi mendorong kursi roda, menunduk dengan sikap penuh perhatian. Di kursi roda itu ada seorang perempuan rapuh, diam.

Dan saat itu Alana mengerti sesuatu yang pahit namun jujur:Verdi telah memilih peran lain dalam hidupnya.

Jika Verdi bersama perempuan itu, maka mungkin disanalah ia dibutuhkan.Bukan di lorong rumah sakit. Dan bukan di taman yang hampir menjadi saksi pertemuan yang terlambat.Alana mengusap wajahnya pelan.Hanya lelah.Lelah mengejar sesuatu yang bahkan tak pernah memintanya datang.

“Seblaknya satu, Teh.”

“Iya,” jawab Alana sigap, kali ini tanpa lamunan panjang.

Ia bekerja kembali, lebih hadir. Bukan karena hatinya sudah sepenuhnya pulih melainkan karena ia memilih untuk berhenti menggenggam.Kehilangan tidak selalu tentang ditinggalkan.

Kadang hanya tentang menerima

bahwa seseorang berjalan ke arah yang bukan lagi jalur kita.Dan hari itu, Alana tidak membenci Verdi.

Ia hanya melepaskannya perlahan,tanpa suara,tanpa drama.

Malam itu malam yang cukup panjang bagi alana,rasa hampar di hati nya,dia tidak tau apa yang terjadi pada dirinya sendiri,Verdi bukan siapa-siapa dia, tapi dia sangat merasa kehilangan,dia tidak pernah menggenggam Verdi tapi dia harus merasakan melepaskan.

Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis

Jangan lupa follow vote and komen nya gays💙💐


Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang