Seminggu telah berlalu.
Hari-hari di warung seblak berjalan seperti biasa ramai, berisik, penuh tawa pelanggan. Tapi bagi Alana, ada satu hal yang terasa janggal Dini.
Dini jadi sering melamun.
Sering pegang ponsel diam-diam.
Sering izin pergi dengan alasan yang sama urusan penting.
Dan pagi itu, firasat Alana tidak bisa dibungkam.Dini bersiap lebih cepat dari biasanya. Jaketnya sudah terpakai, tas selempang tersampir di bahu.
“Lo kemana?” tanya Alana, pura-pura sibuk merapikan hijab.
Dini terdiam sepersekian detik.
“Keluar bentar,” jawabnya singkat. “Urusan pribadi.”
Alana mengangguk, tapi matanya mengamati setiap gerak Dini.
Saat Dini melangkah keluar kontrakan dan menyalakan motor, Alana cepat-cepat mengambil jaketnya sendiri.
“Maaf, Din,” gumamnya pelan.
“Gue cuma pengen tau.”
Alana mengikuti dari kejauhan.
Jalanan pagi itu cukup ramai, tapi ia menjaga jarak.berhenti setiap kali Dini berhenti. Dadanya berdegup tak karuan ketika melihat Dini berbelok ke arah yang sangat dikenalnya.
Dini berhenti di sebuah cafe,yg tepat nya cafe milik Verdi.Langkah Alana melambat. Dari balik kaca cafe, ia melihat pemandangan yang membuat nafasnya tercekat.Dini dan Verdi.
Mereka duduk berhadapan.
Verdi terlihat jauh berbeda wajahnya lebih tirus, ada bekas luka samar di sudut bibir, dan tatapannya lelah. Dini berbicara serius, ekspresinya tegang, sesekali menghela napas panjang.
Alana bersembunyi di balik pilar luar cafe.
Dadanya terasa sesak.
Jadi ini alasan Dini sering pergi?
Kenapa gue harus tau dari cara kayak gini?
Di dalam, percakapan mereka terdengar samar.
“Lo yakin masih mau diem?” suara Dini pelan tapi tegas.
“Alana ngerasa ada yang salah.”
Verdi menunduk. Tangannya mengepal di atas meja.
“Gue belum bisa,” jawabnya lirih.
“Kalau dia tau sekarang dia bisa ikut kenapa-napa.”
Dini menghela nafas panjang.
“Ver, lo nggak bisa lindungi dia dengan cara ngilang.”
Verdi mengangkat wajahnya, matanya merah tapi kering.
“Justru itu satu-satunya cara yang gue punya.”
Di luar, Alana menutup mulutnya.
Air matanya jatuh tanpa izin.
Jadi semua ini karena dia sengaja menjauh.
Langkah Alana mundur perlahan. Ia tak sanggup mendengar lebih jauh. Setiap kata seperti menampar dadanya sendiri.
Ia berbalik, berjalan cepat Namun sebelum sempat berlari.
“Alana?”
Alana membeku.
Ia menoleh pelan.
Verdi berdiri di ambang pintu cafe, menatapnya dengan wajah terkejut seolah dunia baru saja runtuh di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romantizm📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
