Raka tertawa semakin keras melihat ekspresi Verdi yang kepedasan. "Waduh, Ver! Gue gak nyangka lo bisa kalah sama seblak!" ucapnya sambil menepuk meja, nyaris jatuh dari kursinya sendiri.
Alana yang merasa sedikit bersalah buru-buru mendekat. "Ya ampun, Ver. Gue beneran gak sengaja! Maafin gue, ya?"
Verdi meliriknya tajam, wajahnya masih merah akibat kepedasan. "Gue gak bisa maafin lo, Al! Ini keterlaluan banget!" katanya dengan suara serak sambil minum air lagi.
Alana cengengesan, tapi tetap mencoba meyakinkan Verdi. "Ayolah, Ver. Lo kan udah biasa makan pedes, masa segini doang ngambek?"
Verdi mendesis. "Bukan masalah pedesnya, tapi penghianatan lo, Al. Gue percaya lo, tapi lo kasih gue seblak neraka!"
Raka kembali tertawa keras. "Al, lo jahat banget sumpah! Gue jadi saksi kalau dia hampir nangis tadi."
Verdi menatap Raka dengan tatapan membunuh. "Lo ketawa-ketawa aja! Awas aja lo ketemu gue di luar, Rak!"
Raka mengangkat tangan dengan ekspresi santai. "Gue sih aman, yang penting gue gak makan seblak level kiamat kayak lo."
Sementara itu, Dini yang dari tadi menahan tawa akhirnya ikut menimpali. "Udahlah, Ver. Memaafkan itu perbuatan mulia. Anggap aja ini ujian kesabaran lo."
Verdi mendecak kesal. "Gue gak bakal lupa ini, Al. Bayarannya mahal!"
Alana menghela napas panjang. "Yaudah, ntar gue beliin lo minuman di kafe tempat lo kerja. Deal?"
Verdi masih berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dengan berat hati. "Gue gakmau!"
Alana tersenyum kecil. "trus apa ."
Verdi Membisik kan sesuatu ke alana dan alana sedikit ragu untuk menjawab.
Gimana lo mau gak?" ujar raka.
"Hmm iyaa iya," Alana menjawab dengan ketus
Raka bersiul pelan. "Wah, rahasia-rahasian an nih ceritanya?"
Alana dan Verdi langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan membunuh.
"DIAM LO, RAK!" seru mereka bersamaan.
Raka hanya tertawa puas, sementara Dini kembali ngakak.
Setelah cukup lama di warung seblak dan berhasil membakar lidahnya sendiri, Verdi akhirnya bangkit dari kursinya. Dia mengambil jaketnya dan bersiap untuk pergi.
"Gue balik kerja dulu, daripada nanti kena marah bos gara-gara kelamaan di sini," ucapnya sambil melirik Alana. "Jangan lupa bayar utang lo, Al."
Alana mendecak kesal. "Iya, iya. Pergi sana!"
Verdi menyeringai sebelum akhirnya melangkah keluar dari warung.
Begitu Verdi pergi, Alana mengalihkan perhatiannya ke satu orang yang masih duduk santai di warung seblaknya.
Cowok itu masih bersandar santai di kursinya, memainkan ponselnya seolah dia pemilik tempat ini.
Alana menyipitkan mata. "Lo gak ada kerjaan lain, Rak? Udah sore lho, pulang sana!"
Raka meliriknya sebentar lalu tersenyum. "Kenapa? Lo belum puas liatin gue di sini?"
Alana hampir melempar sendok ke arahnya. "Bukan gitu! Lo tuh udah kelamaan di sini, pelanggan lain mau duduk!"
Raka terkekeh. "Alasan aja lo. Ngaku aja kalau lo bakal kangen kalo gue pulang."
Alana menatapnya dengan ekspresi datar. "Sumpah, kalau lo gak pergi sekarang, gue sumpahin tiap lo makan seblak rasanya hambar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
