Pagi ini Alana rencana nya akan pergi ke suatu tempat,karna sudah beberapa hari ini dia merasakan suatu kejanggalan.
"Din,hari ini yang mau mesan 100 porsi seblak mau datang kata nya,janji nya jam 9 ini,lo temui sendiri gapapa kan,gw ada urusan sebentar."
"Lah kalau orang nya gatau gimana,emang lo mau kemanasih ?"
"Orang nya udah tau ko kalau yang nemuin dia itu lo bukan gw,
gw ada keperluan bentar aja kok."
"Yaudah deh iya."
Alana mengangguk dan memutuskan untuk meninggalkan Dini.
Saat Alana pergi, dia tidak bisa menahan rasa penasaran tentang kejanggalan yang dia rasakan selama beberapa hari terakhir.
Alana memasuki caffe. Dia memandang sekeliling, mencari seseorang . Tapi, tidak ada siapa-siapa yang familiar di sana.
Dia memesan secangkir kopi dan duduk di sudut caffe, berharap orang yang dia cari akan muncul. Tapi, menit demi menit berlalu, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran orang itu.
Alana merasa kecewa dan penasaran. Siapa yang dia cari? Mengapa orang itu tidak muncul? Dia memutuskan untuk menunggu lebih lama, berharap orang itu akan muncul.
Alana memutuskan untuk bertanya kepada salah satu karyawan kafe yang sedang membereskan meja di dekatnya.
"Maaf, Mbak," sapa Alana sopan. "Saya mau tanya, apa Verdi masuk kerja?"
Karyawan itu, seorang perempuan dengan celemek cokelat bertuliskan nama kafe, menatap Alana dengan ragu sejenak sebelum menjawab.
"Kak Verdi?" tanyanya, memastikan.
"Iya, Verdi," Alana mengangguk. "Saya biasanya ketemu dia di sini, tapi sudah beberapa hari ini nggak lihat dia."
Ekspresi karyawan itu berubah sedikit canggung. Dia menatap ke arah dapur sebentar, lalu kembali menatap Alana.
"Kak Verdi... masuk rumah sakit, Kak."
Alana terkejut. "Apa? Sejak kapan? Dia sakit apa?"
"Saya kurang tahu pasti, Kak, tapi katanya dia pingsan mendadak waktu pulang kerja. Terus langsung dibawa ke rumah sakit," jelas karyawan itu dengan nada prihatin.
Jantung Alana berdebar. "Rumah sakit mana?"
"Kalau nggak salah, di Rumah Sakit umum," jawab karyawan itu.
Tanpa berpikir panjang, Alana langsung berdiri. "Oke, makasih ya!"
Dia bergegas keluar dari kafe, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Apakah ini ada hubungannya dengan Alana?
Satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan menemui Verdi sendiri.
Alana segera memesan ojek online dan menuju Rumah Sakit Permata. Selama perjalanan, pikirannya dipenuhi pertanyaan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Verdi? Apakah ini ada hubungannya dengan firasat buruk yang dia rasakan selama beberapa hari terakhir?
Setibanya di rumah sakit, Alana langsung menuju bagian informasi.
"Maaf, saya mau tanya. Pasien bernama Verdinand, dia dirawat di ruang mana?"
Petugas resepsionis mengetik sesuatu di komputernya, lalu menatap Alana. "Verdinand al-fath akbar?"
"Iya, benar."
"Dia dirawat di lantai tiga, kamar 301," jawab petugas itu.
Alana mengangguk cepat. "Terima kasih."
Tanpa membuang waktu, dia bergegas ke lantai tiga. Begitu sampai di depan kamar 301, dia menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu dan masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Ficção Adolescente📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
