Tujuh puluh lima

5 1 0
                                        

Kafe itu tidak terlalu ramai. Lampu kuning temaram, musik pelan mengalun, bau kopi bercampur asap rokok tipis. 

Kelima motor terparkir berjejer rapi di depan.Faris langsung masuk tanpa banyak bicara. Ia duduk paling ujung, membuka helm, lalu menyandarkan punggungnya. Wajahnya masih kesal.

“Minum apa?” tanya salah satu karyawan verdi.

“Kopi pahit,” jawab Faris singkat.

“Cocok,” celetuk yang lain. “Sesuai hidup lo.”

Verdi duduk di seberangnya. Ia memperhatikan Faris sebentar, lalu terkekeh.

“Masih kepikiran?”

Faris melirik tajam. “Lo kenapa sih seneng banget ngerjain gue?”

Verdi mengangkat bahu. “Karena jarang lihat lo kayak gini.”

“Kayak apa?”

“Gugup,” jawab Verdi jujur. “Dan itu lucu.”

Faris menghela napas panjang, lalu menatap meja. “Gue nggak biasa.”

“Justru,” kata Verdi pelan, “karena lo nggak biasa, itu keliatan tulus.”

Faris terdiam. Tangannya mengepal, lalu mengendur.

“Gue ngerasa kenal dia,” ucapnya tiba-tiba. “Tapi gue beneran nggak inget dari mana.”

Verdi menyandarkan punggung. “Kadang orang yang pernah lewat sebentar aja bisa ninggalin bekas.”

Faris tersenyum tipis. “Bijak amat.”

“Efek jatuh cinta,” sahut Verdi santai.

Teman-temannya langsung bersorak kecil.

“Wah, Verdi berubah!”

“Dulu paling anti beginian!”

Verdi hanya tersenyum kecil, tidak membantah.

Sementara itu, di kontrakan, Alana sudah berganti pakaian. Ia duduk di tepi kasur, menatap ponsel yang masih gelap. Tidak ada pesan, tapi juga tidak ada gelisah.

Dini keluar dari kamar mandi.

“Verdi ke kafe ya?”

“Iya,” jawab Alana.

Dini duduk di sampingnya. “Kamu percaya?”

Alana menoleh. “Percaya apa?”

“Ke dia.”

Alana tersenyum. “Kalau aku nggak percaya, aku pasti nggak setenang ini.”

Dini mengangguk pelan. Lalu tanpa sadar, ia bertanya,

“Yang namanya Faris itu…”

Alana menahan senyum. “Kenapa?”

“Dia temennya Verdi dari dulu?”

“Iya. Kenapa?”

Dini menggeleng cepat. “Nggak. Cuma nanya.”

Alana tertawa kecil. “Din.”

“Apa.”

“Kamu kepikiran dia.”

Dini melempar bantal kecil ke arah Alana. “Berisik!”

Di kafe, Faris memandangi cangkir kopinya. Kopi sudah dingin, tapi ia belum menyentuhnya.

“Ver,” ucapnya pelan.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang