chapter 11

58 28 0
                                        

Pagi ini, warung seblak Alana dan Dini sudah ramai sejak buka. Karena hari ini hari libur, banyak pelanggan berdatangan, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, hingga keluarga yang ingin menikmati seblak favorit mereka.

Di tengah kesibukan, tiba-tiba seorang cowok dengan gaya nyentrik masuk ke warung. Rambutnya sedikit berantakan, pakaiannya santai tapi terkesan asal-asalan, dan ekspresinya penuh percaya diri.

"Hallo Alana, inget gue nggak?" serunya dengan suara cukup keras, membuat beberapa pelanggan menoleh.

Alana yang sedang meracik seblak menoleh dan langsung mengernyit. "Hah?"

Cowok itu mendekat dengan senyum lebar. "Gue yang beberapa hari lalu pesen seblak banyak! Inget, kan?"

Begitu melihat lebih jelas, Alana akhirnya ingat. "Oh… "

"Yoi! Nah, sekarang gue balik lagi bukan cuma buat makan, tapi juga buat kenalan lebih dekat sama lo Alana," ujarnya sambil menyender di meja dengan gaya sok keren.

Dini yang mendengar itu langsung menahan tawa, sementara Alana mendesah pelan. "Maaf, tapi gue sibuk kerja. Mau pesen apa?"

Cowok itu cengar-cengir. "Pesen hati kamu   boleh nggak?"

Dini langsung tertawa ngakak, sementara Alana menatap cowok itu dengan ekspresi malas. "Nggak. Kalo nggak mau pesen makanan, silakan cari tempat duduk aja."

Bukannya mundur, cowok itu malah semakin heboh. "Aduh,galak bener, kamu cuek banget, sih! Tapi nggak apa-apa, gue suka tantangan!"

Dini yang masih tertawa menepuk bahu Alana. "Al, kayaknya lo dapet fans baru, nih."

Alana hanya menggeleng pasrah. "Ya Tuhan, sabar, sabar..."

Cowok itu akhirnya duduk dan benar-benar memesan seblak, tapi sepanjang waktu dia terus mencari cara buat mengganggu Alana, yang jelas-jelas berusaha mengabaikannya. Dini, di sisi lain, justru menikmati tontonan gratis itu sambil sesekali menggoda sahabatnya.

Dini terus tertawa melihat ekspresi kesal Alana. "Gila, Al! Lo baru pertama kali ada pelanggan yang terang-terangan suka sama lo begini. Lucu banget!" ujarnya sambil menahan tawa.

Alana melotot ke Dini. "Lucu dari mana?! Nyebelin banget, tahu!"

Cowok itu yang mendengar justru semakin semangat. "Aduh, kamu makin cantik kalau lagi kesel. Gemes banget, sih!" katanya dengan gaya sok imut.

Dini hampir tersedak minumannya karena tertawa terlalu keras. "Astaga! Al, lo harus kasih dia diskon spesial. Diskon karena berani godain lo secara live begini!"

"Hah?! Enggak bakal!" Alana langsung menolak dengan cepat.

Cowok itu malah menyengir. "Gak apa-apa, Kak. Kalau Alana mau kasih nomor WA aja, gue juga nggak nolak."

Dini makin ngakak. "Wah, pede banget, Bang! Al, udah lah, kasih aja nomor lo!"

Alana menepuk dahinya, mencoba tetap fokus bekerja sambil mengabaikan kehebohan yang dibuat cowok itu dan Dini yang terus menggoda. Tapi dalam hati, Alana tahu, hari ini bakal jadi hari yang panjang berkat tingkah cowok aneh itu.

Melihat cowok itu nggak menyerah juga, Alana akhirnya iseng. Dengan wajah datar, dia mengambil secarik kertas dan menuliskan nomor.

"Nih, nomor gue," katanya sambil menyerahkan kertas itu.

Cowok itu langsung berseri-seri. "Wah, seriusan?! Kak Alana akhirnya luluh juga! Makasih, ya!" katanya penuh semangat sebelum memasukkan nomor itu ke HP-nya.

Dini yang melihat ini mulai curiga. "Eh, Al, lo beneran kasih nomor lo?" bisiknya sambil menahan tawa.

Alana hanya tersenyum licik. "Lihat aja nanti."

Beberapa menit kemudian, cowok itu berdiri dari mejanya. "Oke, Alana! Gue pulang dulu, nanti gue chat ya! Jangan di-read doang, lho!" katanya sebelum melambaikan tangan dan pergi dengan percaya diri.

Begitu cowok itu keluar, Dini langsung meledak tertawa. "Gila, Al! Nomor siapa yang lo kasih?"

Alana terkikik sambil merapikan meja. "Nomor tukang sedot WC."

Dini langsung jatuh tertawa di kursi. "Astaga! Kasihan banget tuh anak! Bisa-bisa dia malah dapet promo jasa sedot WC!"

Alana mengangkat bahu santai. "Biarin aja, biar kapok."

Mereka berdua pun lanjut bekerja sambil sesekali tertawa membayangkan betapa shock-nya cowok itu nanti.

Alana menghela napas panjang sambil menggeleng. "Hadeh… ada aja yang bikin gw kesel hari ini."

Dini yang masih tertawa menepuk bahu Alana. "Santai, Al! Anggap aja hiburan gratis. Jarang-jarang ada pelanggan yang sekeras kepala itu buat dapetin lo."

Alana memutar mata. "Hiburan apanya? Gw malah pusing sendiri."

Dini menyeringai. "Ya pusing lah, abisnya lo malah kasih dia nomor tukang sedot WC! Bisa-bisa dia langsung dapet layanan spesial!"

Alana menyandarkan tangan di meja. "Ya biarin, Din. Hitung-hitung karma buat orang yang suka gangguin orang kerja."

Dini kembali tertawa. "Yah, tapi kalau dia balik lagi besok, lo siap-siap aja, Al. Bisa jadi dia malah bawa temen-temennya!"

Alana langsung memasang ekspresi horor. "Jangan sampe, Din! Gue gak sanggup kalo harus ngadepin dia lagi!"

Dini hanya terkikik, sementara Alana berusaha mengabaikan kejadian barusan dan kembali fokus bekerja.

Dini tertawa puas melihat ekspresi ketakutan Alana. "Hahaha! Al, lo lucu banget sih! Biasanya galak, sekarang malah takut sendiri!"

Alana mendelik. "Bukan takut, Din! Gue cuma males aja kalau besok dia balik lagi!"

Dini masih cekikikan. "Tapi bayangin aja kalau besok dia datang lagi, terus bawa pasukan buat pesen seblak sekontrakan! Kan warung kita makin rame!"

Alana langsung memukul lengan Dini pelan. "Lo tuh niatnya dagang apa gimana , sih?!"

Dini mengangkat bahu dengan senyum jahil. "Dua-duanya boleh, kan? Lagian, lo kan udah lama jomblo, Al. Siapa tau dia jodoh lo."

Alana langsung memasang wajah horor. "Ih, amit-amit! Gue lebih milih jualan seblak sampai tua daripada sama cowok aneh kayak dia!"

Dini tertawa makin kencang. "Yaudah, yaudah! Tapi kalau besok dia balik lagi, jangan kabur, ya. Gue bakal pasang kamera biar bisa ngerekam reaksi lo!"

Alana hanya mendengus sambil kembali fokus bekerja, sementara Dini masih terus menertawakan sahabatnya. Hari ini benar-benar penuh kejadian absurd!

Alana menghela napas panjang, berusaha mengabaikan ocehan Dini, lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mulai merapikan meja, mengecek stok bahan, dan memastikan semua pesanan pelanggan tersaji dengan baik.

Dini masih sesekali terkikik, tapi akhirnya ikut membantu. "Oke, oke, gue bantuin, deh. Kasihan lo kalau harus kerja sambil kesel sendiri."

Alana hanya melirik sekilas. "Bagus, akhirnya lo sadar."

Mereka pun kembali sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan. Suasana warung tetap ramai, dan meskipun sempat terganggu dengan cowok aneh tadi, Alana tetap bekerja dengan profesional.

Menjelang sore, warung mulai sedikit lengang. Alana duduk sebentar di kursi, mengistirahatkan tangan yang sudah lelah mengaduk seblak seharian.

Dini duduk di sebelahnya sambil menyeruput es teh. "Gimana? Udah agak tenang?"

Alana mengangguk. "Iya, lumayan. Tapi gue tetap berharap besok dia nggak balik lagi,amit-ketemu dia lagi."

Dini tertawa kecil. "Kita lihat aja besok. Kalau dia balik, lo harus siap-siap!"

Alana hanya mendesah pasrah. Hari ini memang melelahkan, tapi setidaknya warung mereka tetap ramai dan berjalan lancar.



Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis

Jangan lupa vote and komen nya gays💙💐
    







Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang