Pagi datang dengan sangat tenang. Terlalu tenang.Beberapa hari setelah teror itu,tidak ada pesan misterius,tidak ada amplop. tidak ada bayangan laki-laki berhoodie hitam lagi.
Alana bangun dengan kepala masih berat, tapi ia langsung sadar akan satu hal:Sunyi.
Mereka berdua sudah siap menuju warung seblak Saat mereka tiba, semuanya tampak baik-baik saja.
Karyawan menyapa seperti biasa.
Tidak ada orang mengawasi dari jauh.
Tidak ada amplop aneh di meja kasir.
Bahkan pelanggan tidak bertanya soal Verdi sebanyak hari sebelumnya.
“Tumben sepi banget gosip,” gumam Dini sambil merapikan apron.
Alana hanya mengangguk.“Ya… tumben banget,” jawabnya pelan.
Suaranya terdengar waspada, bukan lega.
Saat memasak seblak, Alana tiba-tiba terhenti.
Karyawan memanggil, “Kak Alana, cabe nya habis!”
Alana menoleh dan menjawab, “Iya bentar.”
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu di dadanya
Dini mendekat.
“Al? Kamu kenapa? Pucat lagi…”
Alana menggeleng.
“Nggak… nggak apa-apa. Aku cuma kayak ngerasa ada yang bakal kejadian.”
Dini menghela nafas panjang.
“Al, tolong jangan bikin aku takut lagi.”
Dan mereka kembali ke pekerjaan masing-masing,dan tak terasa hari makin malam, pergantian siang hingga malam terasa cepat.
Saat warung mulai tutup, Alana duduk sebentar di kursi paling pojok sambil memainkan HP.
“Din… aku cek nomor yang biasanya ngirim teror itu…”
“Kenapa?”
“Nomornya… udah nggak ada. Kayak dihapus atau diblokir.”
Dini langsung gelisah.
“Jadi orang itu berhenti?
Alana menggigit bibir.
“Aku nggak tahu.
Tapi rasanya… ini cuma permulaan atau benar berhenti aku bingung .”
Malam itu terasa tenang tidak terlalu dingin kendaraan berlalu lalang dan sampai nya di kontrakan mereka masuk dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Tapi lagi-lagi,tidak ada apa-apa.Tidak ada bayangan. Tidak ada pesan. Tidak ada amplop.Hanya sunyi.Sunyi yang mencurigakan.Alana duduk di sofa dan berbisik lirih
“Din kenapa semuanya malah makin aneh?”
Dini menyalakan lampu ruang tamu semuanya.
“Karena semua ini terlalu mendadak berhenti, Al. Biasanya… sebelum badai datang… angin itu justru hilang.”
Alana memeluk bantal, tidak bisa menepis firasat buruknya,dan berlarut dalam tidur nya.
***
Suatu siang, Dini memperhatikan Alana yang melamun sambil mengaduk kuah seblak.
“Al…”
Dini menepuk bahunya.
“Kamu masak seblaknya udah ngedidih banget. Kalau gosong, pelanggan ngamuk.”
Alana tersadar, buru-buru mematikan kompor.
“Oh—iya, iya. Maaf.”
Dini menyipitkan mata.
“Kamu masih mikirin dia ya?”
Alana tidak menjawab Tapi caranya diam sudah cukup menjelaskan semuanya.
Di sela-sela kesibukan, ia masih sering,menatap ponselnya diam-diam,membuka chat Verdi meski tidak ada pesan baru,menyimpan nomor Verdi di recent call dan tidak menghapusnya,merapikan gelang yang pernah dikasih Verdi di pasar malam menahan napas setiap kali motor lewat di depan warung, berharap itu Verdi.Namun ketika Dini bertanya, Alana selalu menjawab:
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
