Keributan belum sempat pecah
ketika satu suara asing memotong semuanya,tenang,terlalu tenang.
Seorang pria melangkah keluar dari barisan geng lawan.
“Berisik,” katanya singkat.
“Tapi nggak ada yang berani selesaikan semua ini.”
Semua mata beralih ke arahnya.
Alex menoleh.
“Lu mau apa?”
Pria itu menatap lurus ke Arkana.
Lalu ke verdi.
Lalu kembali ke Arkana.
“Kita bikin ini sederhana.”
Beberapa orang mendengus tidak setuju.
Bima langsung waspada.
“Sederhana versi siapa?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Balapan.”
Satu kata itu membuat ruangan mendadak sunyi.
“Verdi lawan Arkan,” lanjutnya pelan, jelas.
“Bukan geng lawan geng.”
“Bukan kita lawan kita.”
Arkana menajamkan mata.Desah nafas terdengar dari berbagai arah.
“Kalau Verdi kalah,” pria itu melanjutkan tanpa jeda,
“dia lepas semuanya.”
Ia menghitung dengan jari.
“Alana.”
“Alana Cafe.”
“Dan motor Verdi.”
Semua itu jadi milik Arkana.
Bima melangkah maju kasar.
“Lu gila.”
Tapi pria itu belum selesai.
“Kalau Arkana yang kalah,” katanya sambil menoleh dingin,
“dia berhenti.”
“Berhenti ganggu Alana.”
“Berhenti ganggu Verdi.”
“Dan selesaikan semua dengan damai”
Ia menatap Arkana lurus, tanpa kedip.
“Lu beresin semua kekacauan ini.”
“Nama dibersihin.”
“Rumor ditarik.”
“Masalah ditutup.”
Ruangan seperti kehilangan suara.
Jaya berbisik panik,
“Ini perangkap.”
Nero mengepalkan tangan.
“Lu pakai Alana buat taruhan?”
Pria itu mengangkat bahu.
“Dari awal dia sudah jadi taruhannya.”
Arkana tertawa kecil.Bukan lucu.
“Dan Verdi setuju?” tanyanya pelan.
Pria itu tersenyum lebih lebar.
“Verdi selalu balap kalau nggak ada jalan lain.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari hinaan,Alex memaki pelan.
Bima menoleh ke Arkana.
“Ka, jangan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Ficção Adolescente📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
