Di dalam, waktu lima menit hampir habis.
Verdi berdiri di samping ranjang, jarinya mengepal, menahan ribuan kenangan yang ingin ia sebutkan satu per satu.
Tentang warung seblak.Tentang hujan dan bulan yang pernah mereka tunggu bersama.Tentang janji-janji yang kini tinggal di satu sisi ingatan saja.
Namun tak satu pun ia ucapkan.Karena di hadapannya, Alana menatapnya seperti orang asing yang baik hati, tidak lebih.
“Semoga kamu cepat sembuh,” ujar Verdi lirih.
Alana membalas dengan senyum tipis, sopan.
“Aamiin. Terima kasih.”
Pintu diketuk pelan oleh perawat, tanda waktu kunjungan selesai.Verdi berbalik. Tangannya sempat menyentuh gagang pintu, lalu berhenti.Tanpa menoleh, dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,
“Aku tetap di sini, Al meski kamu tak lagi tahu siapa aku.”
Ia melangkah keluar.
Di dalam ruangan, Alana memejamkan mata, tiba-tiba merasa dadanya sesak tanpa sebab yang ia mengerti. Setetes air mata mengalir di pelipisnya.
Ia mengusapnya bingung.
“Aneh…” gumamnya pelan. “Kenapa hatiku sakit, padahal aku tidak kehilangan apa-apa?”
Di lorong rumah sakit, Verdi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bagi Alana, semua telah kosong.
Namun bagi Verdi, ingatan itu masih utuh, dan justru itu yang paling menyakitkan.
Hari-hari setelah Alana sadar dipenuhi keheningan yang canggung.
Dokter mengatakan ingatannya tidak hilang seluruhnya, hanya terkunci. Tidak boleh dipaksa, tidak boleh diguncang. Harus dibuka perlahan, seperti mengetuk pintu yang lupa cara terbuka.
Verdi datang setiap hari, selalu di jam kunjungan yang sama.Tidak pernah membawa cerita besar, tidak pernah menyebut kata “ingatlah aku”. Ia hanya duduk di kursi samping ranjang, menjaga jarak yang sopan, seperti yang diinginkan Alana.
Hari berikutnya, Verdi membawa foto langit malam yang ia cetak.Di foto itu, langit penuh bulan dengan tetes-tetes hujan yang tertangkap cahaya lampu jalan.
“Ada apa dengan foto ini?” tanya Alana.
“Kamu pernah bilang,” ucap Verdi lembut, “kalau hujan atau bulan, berarti doa seseorang sedang naik tanpa tersesat.”
Alana memegang foto itu lebih lama dari yang ia sadari.
Dadanya terasa hangat sekaligus perih.
“Aku pernah bilang begitu?” bisiknya.
Verdi mengangguk pelan. “Iya.”
Sunyi menggantung. Mesin monitor berdetak pelan.
Hari lain, Verdi tak membawa apa-apa selain cerita sederhana.Tentang dua orang yang duduk di taman, dikelilingi kunang-kunang.Tentang balon berisi cahaya kecil seperti bintang yang dijual bapak-bapak di pinggir jalan.Tentang tawa yang muncul tanpa alasan besar.
Ia tidak pernah menyebut nama mereka.
Hanya “dua orang itu”.
Alana selalu mendengarkan sampai akhir.
Kadang keningnya berkerut, kadang matanya berkaca-kaca tanpa tahu kenapa.
“Cerita itu sedih atau bahagia?” tanya Alana suatu sore.
Verdi berpikir lama sebelum menjawab.
“Keduanya. Bahagia saat terjadi, sedih saat hanya bisa diingat satu orang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
