duapuluh satu

48 26 3
                                        

Motor Verdi melaju dengan santai, menelusuri jalanan kota yang mulai lengang di malam hari. Lampu-lampu jalan menerangi perjalanan mereka, sementara Alana diam di belakang, masih menggenggam permen kapasnya.

Sesekali, Verdi melirik ke spion, memastikan Alana baik-baik saja. "Lo kedinginan gak?" tanyanya tanpa menoleh.

Alana yang sedang melamun sedikit tersentak. "Hah? Enggak, kok."

Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan kos Alana. Verdi mematikan mesin motornya dan menoleh ke belakang. "Udah nyampe, turun sana."

Alana turun dari motor.

Verdi menyandarkan satu lengannya di setang motor dan menatap Alana dengan ekspresi menggoda. "Besok kalau mau nemenin gue lagi, bilang aja. Gak usah gengsi,gue siap ko."

"Ehh,siapa juga yang mau nemenin lo lagi,lo kali yang mau jalan sama gw."

"Yamana tauan lo rindu gw."ujar verdi sambil tertawa. "yauda gue jalan dulu ya."

Alana mendengus. "Ver. Hati-hati di jalan."

Verdi terkekeh. "Iya, iya. Sana masuk."

Alana hanya mendelik sebelum akhirnya berbalik menuju pintu kos. Saat hendak masuk, dia melirik permen kapas di tangannya dan tanpa sadar tersenyum kecil.

Sementara itu, Verdi menyalakan motornya lagi dan pergi meninggalkan kos Alana. Namun, sebelum benar-benar pergi, dia sempat melihat ke arah Alana yang masih berdiri di depan pintu.

"Dasar cewek aneh,keras kepala," gumamnya pelan, lalu tancap gas, menghilang di jalanan malam.

Saat masuk ke dalam kos, Alana mendapati Dini sedang duduk santai di depan TV, menikmati camilan dengan ekspresi santai seolah menunggu sesuatu.

Tanpa menoleh, Dini langsung nyeletuk, "Akhirnya balik juga, Nona Alana."

Alana mendengus sambil melepas sepatunya. "Apaan sih?"

Dini menoleh dengan senyum menggoda. "Gimana kencannya? Seru?" tanyanya sambil mengunyah keripik.

Alana mendelik. "Kencan dari mana? Gue cuma nemenin Verdi ke pasar malam, itu juga karena janji."

Dini terkikik. "Iya, iya, nemenin. Tapi kenapa lo bawa permen kapas? Romantis banget gak sih?"

Alana terdiam sejenak, melirik permen kapas di tangannya, lalu buru-buru duduk di samping Dini. "Halah, dia cuma iseng beliin aja."

Dini menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil tersenyum penuh arti. "Kalau cuma iseng, kenapa lo senyum-senyum sendiri pas liat permen kapas itu?"

Alana langsung melempar bantal ke arah Dini. "Berisik lo!"

Dini tertawa terbahak-bahak. "Aduh, Al. Lo tuh kalau lagi salting keliatan banget."

Alana memilih untuk diam dan fokus membuka ponselnya, mencoba mengabaikan Dini.

Tak ingin memikirkan hal aneh-aneh lagi, Alana segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. Setelah mandi, dia merasa lebih segar dan memutuskan untuk menghampiri Dini yang masih asyik menonton TV.

Namun, saat baru saja duduk di sofa, ponselnya bergetar. Alana melirik layarnya dan langsung menghela napas panjang. Sebuah notifikasi dari Raka.

"Al, lo udah tidur belum."

Alana menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Rasanya hari ini sudah cukup melelahkan, dan dia tidak punya energi untuk menghadapi Raka lagi.

Dini yang menyadari perubahan ekspresi Alana langsung menoleh. "Kenapa, Al? Jangan bilang si Raka?"

Alana menyerahkan ponselnya ke Dini tanpa berkata apa-apa. Dini membaca pesan itu dan langsung mendecak. "Astaga, cowok ini gak ada capeknya ya ngejar lo?"

Alana merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. "Gue aja capek, Din. Kenapa dia enggak?"

Dini terkikik. "Mungkin lo itu tantangan buat dia."

Alana melotot. "Apaan sih?! Gue bukan hadiah doorprize yang harus dia dapetin."

Dini tertawa lagi, sementara Alana hanya bisa mendesah panjang. Dia akhirnya meletakkan ponselnya di meja dan memutuskan untuk mengabaikan pesan Raka. Malam ini, dia hanya ingin menikmati waktu santai tanpa drama tambahan.

Alana menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar.

Raka : "Hari ini gue sibuk jadi ga sempat berkunjung ke warung. Lo pasti kangen gue ya. Besok gue kesana lagi, tenang aja."

Tanpa pikir panjang, Alana meletakkan ponselnya di meja tanpa membalas pesan Raka. Dia sudah cukup lelah hari ini dan tidak ada energi untuk meladeni cowok aneh itu.

Dini yang melihat ekspresi Alana langsung terkekeh. "Kenapa? Raka lagi bikin drama baru?"

Alana menoleh malas. "Gak drama sih, lebih ke halu."

Dini penasaran, lalu mengambil ponsel Alana dan membaca pesan dari Raka. Seketika, dia tertawa keras. "Astaga, pede banget ini anak! Dia pikir lo tiap hari nungguin dia datang?"

Alana merebut kembali ponselnya dan menaruhnya jauh-jauh. "Gue gak paham lagi sama jalan pikirannya. Yang ada gue lega dia gak datang hari ini."

Dini masih terkikik. "Yaudah, siap-siap aja besok dia muncul lagi. Mungkin dengan drama baru."

Alana menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya ke sofa. "Duh, bisa gak sih besok langsung weekend aja biar gue libur?"

Dini tertawa lagi, sementara Alana hanya bisa pasrah. Besok pasti ada lagi kejadian absurd yang harus dia hadapi.

Alana yang sudah siap untuk tidur tiba-tiba kembali mendapat notifikasi. Kali ini bukan dari Raka, melainkan dari Verdi.

Verdi : "Makasih untuk malam ini."

Alana menatap pesan itu sejenak, lalu mengetik balasan singkat.

"Yaa."

Setelah mengirimnya, dia meletakkan ponselnya di samping bantal dan menghela napas lega. Setidaknya Verdi tidak seaneh Raka. Tanpa berpikir panjang lagi, matanya mulai terpejam, dan dalam hitungan menit, Alana pun tertidur.

Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksi nya,satu saran dari kalian sangat bermamfaat bagi penulis

Jangan lupa vote and komen nya gays💙💐

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang