Malam itu, Alana pulang bersama Verdi.
Mereka berjalan berdampingan,menelusuri kota yang tampak cerah oleh cahaya bulan dan bintang. Lampu jalan memantul di aspal yang masih sedikit basah, udara malam terasa lebih tenang dari biasanya. Tak ada motor, tak ada musik hanya langkah kaki dan suara malam.
Beberapa menit berlalu tanpa kata.
Alana menatap langit.
“Jarang ya kota setenang ini,” ucapnya pelan.
Verdi mengangguk. “Iya. Biasanya rame, tapi malam ini kayak ngasih jeda.”
Alana tersenyum tipis. Jeda. Kata itu terasa pas dengan apa yang sedang mereka jalani.
Mereka melewati deretan warung yang sudah tutup, beberapa kucing tidur di teras toko. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan, lalu sama-sama refleks menjauh, canggung tapi hangat.
“Luka lo masih sakit?” tanya Alana akhirnya.
Verdi meliriknya sekilas. “Sedikit. Tapi aman.”
Alana berhenti melangkah. Verdi ikut berhenti.
“Jangan bohong,” katanya, menatap wajah Verdi yang masih menyisakan lebam. “Lo selalu gitu.”
Verdi terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang.
“Gue cuma nggak mau lo khawatir.”
“Itu bukan alasan,” jawab Alana lirih.
Angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung hijab Alana. Verdi menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, lalu mengalihkan pandangan ke langit.
“Al…” suaranya tertahan, seolah ada kalimat yang ingin keluar tapi ditahan.
Alana menunggu.
Namun Verdi hanya tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa. Lanjut jalan aja.”
Mereka kembali melangkah. Tidak ada pengakuan cinta, tidak ada janji. Tapi di bawah bulan dan bintang malam itu, jarak di antara mereka terasa lebih dekat dari sebelumnya cukup dekat untuk membuat hati sama-sama berisik,dan cukup dekat untuk membuat pulang terasa berbeda.
Pagi ini, warung seblak tutup.
Jadwal libur untuk semua karyawan.
Alana dan Dini memilih keluar lebih awal, berjalan santai ke taman kota yang tak jauh dari kontrakan. Matahari masih malu-malu, sinarnya lembut menembus sela pepohonan. Udara pagi terasa segar, berbeda dari hiruk pikuk warung yang biasa mereka hadapi setiap hari.
Mereka berjalan beriringan di jalur setapak, langkahnya pelan, tanpa tujuan yang benar-benar pasti.
“Rasanya aneh ya,” ujar Dini sambil meregangkan tangan. “Libur tapi kepala masih mikir seblak.”
Alana terkekeh kecil. “Refleks pekerja keras.”
Mereka duduk di bangku taman. Beberapa orang tampak jogging, ada juga pasangan muda yang tertawa pelan, dan anak kecil mengejar merpati. Suasana damai, nyaris membuat Alana lupa pada keruwetan perasaannya sendiri.
Dini melirik Alana dari samping.
“Lo lagi mikirin Verdi, kan?”
Alana terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang. “Kelihatan banget ya?”
“Banget,” jawab Dini tanpa ragu. “Sejak tadi lo senyum-senyum tapi kosong.”
Alana menunduk, memainkan ujung hijabnya. “Gue capek, Din. Perasaan gue ribut sendiri.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
