Pagi yang mendung itu, Alana dan Dini tetap menjalankan aktivitas seperti biasa di warung seblak. Meskipun langit tampak suram, pelanggan tetap berdatangan untuk menikmati seblak mereka.
Saat Alana sedang sibuk di dapur, tiba-tiba suara familiar terdengar dari arah pintu masuk.
"Wah, rame juga ya di sini!"
Alana menoleh dan sedikit terkejut melihat sosok yang berdiri di depan warung. "Verdi?"
Dini yang sedang mengatur pesanan juga ikut menoleh dan langsung tersenyum. "Eh, Ver! Udah sembuh, lo?"
Verdi mengangguk dengan senyum santai. "Iya, udah sembuh total. Udah bosen juga tiduran di rumah sakit, makanya mampir ke sini. Kangen seblak buatan kalian!"
Alana menghela napas lega. "Syukurlah kalau udah sehat. Kirain masih di rumah sakit."
Verdi tertawa kecil. "Udah keluar sejak kemarin. Tadinya mau langsung ke sini, tapi disuruh istirahat dulu di rumah. Baru deh hari ini bisa mampir."
Dini menggoda dengan senyum jahil. "Wih, Al, lo keliatan lega banget. Jangan-jangan selama ini kepikiran terus, ya?"
Alana melotot ke arah Dini. "Apaan si lo, Din!" katanya sambil melempar kain lap ke arah sahabatnya.
Verdi hanya tersenyum melihat interaksi mereka. "Hahaha, pasti dia kangen sama gw. Udah, kalau gitu bikinin gue seblak favorit gue, ya. Gue udah ngidam dari kemarin."
Alana hanya mendengus pelan lalu mulai membuat pesanan Verdi, sementara Dini masih tertawa kecil menikmati momen itu.
Saat membuat seblak pesanan Verdi, Alana tiba-tiba mendapatkan ide jahil. Dia melirik Dini yang sedang sibuk, lalu tersenyum licik.
"Oke, kita lihat seberapa kuat lidah lo, Ver," gumamnya pelan sambil menambahkan garam lebih banyak dari biasanya ke dalam seblak Verdi.
Setelah selesai, dia menyajikannya dengan wajah polos. "Nih, seblak spesial buat lo, Ver."
Verdi yang sudah tidak sabar langsung mengambil sendok dan mencicipi suapan pertama. Awalnya dia tampak biasa saja, tapi beberapa detik kemudian ekspresinya berubah.
"Hah?" Verdi berkedip beberapa kali, lalu menatap mangkuknya. "Ini… kok asin banget?!"
Dini yang melihat reaksinya langsung curiga. "Hah? Masa sih?"
Verdi mengambil suapan lagi dan langsung meringis. "Gila, ini seblak atau air laut?!"
Dini tertawa keras. "Astaga, Al! Lo apain seblaknya?"
Alana pura-pura tidak tahu. "Hah? Emang kenapa? Kan gue bikinin spesial buat Verdi."
Verdi menatap Alana dengan tatapan penuh kecurigaan. "Spesial dari mana?! Ini lebih asin dari air mata anak STM ditinggal pas lagi sayang-sayangnya!"
Dini tertawa makin keras sampai hampir jatuh dari kursinya. "AL, PARAH LO! HAHAHA!"
Verdi menggeleng sambil tertawa kecil. "Ya ampun, Al! Gue Baru sembuh udah lu kerjain! Tapi gapapa, gue anggap ini tanda sayang lo ke gue." katanya sambil menyeringai.
Alana langsung mendelik. "Jangan GR, deh!"
Dini masih terpingkal-pingkal sementara Verdi hanya bisa pasrah. "Yaudah deh, bikinin lagi yang bener."
Alana akhirnya tertawa dan setuju untuk membuatkan seblak baru untuk Verdi, kali ini dengan takaran yang benar.
Saat Alana sibuk membuat seblak tiba-tiba suara berisik terdengar dari pintu masuk.
"Hallo Alanaaa! Aku datang lagiii!"
Alana langsung menegang, sementara Dini yang sedang membersihkan meja spontan menahan tawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
