Enam puluh enam

13 7 0
                                        

Verdi akhirnya kembali ke rutinitas lamanya.Setiap pagi hingga sore ia bekerja di kafe miliknya merapikan meja, menyeduh kopi, sesekali memetik gitar ketika kafe sedang lengang. Di depan semua orang, Verdi tampak sama seperti dulu santai, ramah, dan penuh canda. Tak ada yang tahu bahwa hatinya kini selalu tertambat pada satu nama.Alana.

Siang itu warung seblak kembali ramai. Asap dari panci besar mengepul, suara sendok beradu dengan mangkuk saling bersahutan. Alana sibuk di balik meja, fokus menakar bumbu, sampai satu suara yang terlalu familiar membuat alisnya berkerut.

“Wih makin cantik aja lo, Al.”

Alana menoleh sekilas.

Raka.

Cowok itu berdiri santai di depan meja, senyum jailnya terpasang seperti biasa. 

Jaket hitam, tangan dimasukkan ke saku, gaya sok akrab yang membuat Alana refleks menarik napas panjang.

“Mau pesen apa?” tanya Alana datar, tanpa menatap lama.

“Seblak, jelas. Tapi bonus ngobrol sama lo,” jawab Raka sambil terkekeh. “Udah lama gue nggak liat senyum lo, jangan-jangan kangen gue?”

Alana mendengus pelan. “Level berapa?”

“Level lo aja,” balas Raka cepat.

Beberapa pelanggan di dekat mereka mulai melirik, ada yang senyum-senyum menahan tawa. Dini yang dari tadi mengamati hanya menggeleng kecil, sudah paham pola Raka.

Raka bersandar sedikit ke meja. “Eh, beneran deh. Lo keliatan beda sekarang. Ada yang ngisi hidup lo ya?” katanya 

sambil menatap Alana lebih tajam.

Tangan Alana berhenti sesaat mengaduk kuah, lalu kembali bergerak. “Pesanan lo mau lama apa cepat?”

Raka tertawa, bukannya tersinggung. “Santai aja kali. Gue cuma bercanda.”

Ia menurunkan suara. “Tapi kalo ada cowok yang bikin lo senyum, gue pengen kenal.”

Alana akhirnya menatapnya, dingin tapi tegas. “Urus aja seblak lo, Rak.”

Di seberang jalan, tanpa mereka sadari, Verdi sempat berhenti sejenak di atas motor. Dari balik helm, ia melihat Raka berdiri terlalu dekat. Rahangnya mengeras, tapi ia memilih tidak turun hanya menatap sebentar, memastikan Alana tetap kuat, lalu menyalakan motor dan pergi.

Sementara itu, Raka masih tersenyum, seolah tak peduli batas.

Dan Alana kembali bekerja, mencoba tetap tenang, meski hatinya tahu

beberapa orang datang bukan untuk membeli seblak,tapi untuk menguji kesabaran.

Sore itu langit mulai berubah warna, jingga bercampur abu-abu. Warung seblak tak seramai siang tadi, tapi masih cukup hidup dengan beberapa pelanggan yang duduk santai.Alana sedang merapikan meja ketika seseorang berhenti di depannya.

Verdi.Tanpa banyak kata, ia meletakkan satu gelas kopi hangat di atas meja dekat Alana. Bukan di depan pelanggan, tapi pas di sudut tempat Alana biasa berdiri.

Verdi datang tanpa suara berlebih. Di tangannya, secangkir kopi hangat masih mengepulkan asap tipis.

Alana yang sedang mengelap meja menoleh. Langkahnya terhenti.

“Kamu” ucapnya pelan, seolah tak menyangka.

Verdi tersenyum kecil. Senyum yang tak pernah benar-benar berubah.

“Aku bawain kopi.”

Alana menatap gelas itu beberapa detik, lalu menerimanya. Jari mereka bersentuhan singkat cukup untuk membuat Alana menarik napas lebih dalam.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang