duapuluh sembilan

60 32 2
                                        


Alana yang mendengar dari jauh pura-pura fokus ngulek seblak, padahal pipinya mulai memanas.
Dia bahkan sempat berbisik pelan ke diri sendiri,
"Bukan urusan gue kalo dia nggak dateng... kan bukan siapa-siapa."

Tapi entah kenapa, setiap kali ponselnya berbunyi, ia berharap ada nama "Verdi" di layar.

Siang hari, warung mulai ramai.
Aroma seblak pedas memenuhi udara, musik lembut dari speaker kecil terdengar samar.
Alana sibuk di dapur, sementara Dini melayani pelanggan. Tapi hampir setiap meja punya pertanyaan yang sama soal Verdi.

Seorang pelanggan perempuan Gen Z dengan kamera depan menyala mendekat ke meja kasir.

"Kak, Verdi-nya mana, ya? Biasanya nongol bantu-bantu."

Alana menoleh sekilas, senyum tipis.

"Lagi sibuk, kayaknya."

"Haa? Sayang banget. Soalnya aku sama temen-temen mau bikin konten TikTok sama dia kayak kemarin. Lucu banget, pas dia nyanyi lagu galau itu."

Alana cuma mengangguk.

"Iya, nanti kalo dia dateng aku sampein."
Padahal hatinya sedikit berdesir.

Tak lama, dua cowok SMA masuk, langsung nyari tempat duduk dekat pojokan - tempat biasanya Verdi main gitar.

"Eh, bangku MasVerdi kosong, ya?"
"Biasanya dia nongkrong di situ sambil becandain si mbak yang jual seblak tuh."

Alana menatap mereka dari balik dapur, pura-pura fokus ngulek.
Dini menahan tawa sambil melayani.

"Hari ini Mas Verdi nggak dateng, Mas."

"Wah, rugi dong. Gak rame kalo nggak ada dia. Mbak Alana juga keliatan diem banget hari ini."

Alana spontan nyeletuk dari dapur,

"Saya diem bukan karena dia nggak ada, emang capek aja!"

Suara beberapa pelanggan di meja lain langsung terkekeh.

"Weee... baper, baper~"
"Ciee, kangen yaa Kak Alanaaa~"

Alana menatap mereka dengan wajah masam, tapi telinganya memerah.

Sore hari, suasana makin padat.
Anak-anak kuliah yang baru pulang nongkrong di sana. Salah satunya nyeletuk keras sambil pesan.

"Mbak, mas Verdi nggak kerja lagi di sini, ya?"
"Soalnya semalam aku liat di story-nya dia kayak di suatu tempat gitu, tapi nggak jelas caption-nya."

Kalimat itu sukses bikin tangan Alana berhenti di atas wajan.

"Sama cewek ?" gumamnya pelan.
Tapi ia buru-buru menutupi.
"Eh, nggak tau deh, aku nggak ngikutin story-nya."

Dini yang mendengar itu langsung melirik curiga, tapi memilih diam.

Menjelang malam.
Beberapa pelanggan langganan datang dan mulai ngobrol santai.

"Mbak Alana, serius Verdi nggak kerja lagi di sini?"
"Biasanya dia bantu nyuci piring tuh, kok sekarang nggak pernah keliatan?"

"Iya bener. Gak ada dia tuh sepi, nggak ada yang ngelucu-ngelucu."

Alana menaruh piring di meja pelanggan dan berusaha tersenyum.

Dini nyengir, "Nah tuh, denger nggak Lan?"

Alana memelototinya.

"Lo ikut-ikutan juga, Din?!"

Satu meja lain ikut menggoda.

"Kalau nanti Verdi balik, tolong live-in lagi kayak kemarin dong, seru banget! Aku sampe save videonya, loh!"

Alana hanya bisa nyengir kaku.
Dalam hatinya, jantungnya mulai berdebar antara malu, bingung, dan khawatir.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang