Tiga puluh sembilan

13 5 0
                                        


Lorong rumah sakit itu terlalu terang untuk perasaan Alana.
Bau antiseptik menusuk, bercampur suara langkah tergesa dan roda brankar yang berdecit pelan.

“Ibu, pelan-pelan ya,” ucap Alana sambil menggenggam tangan perempuan hamil di sampingnya. Wajah ibu itu pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Alana menekan tombol lift berulang kali, dadanya ikut sesak.

Saat pintu lift terbuka, matanya tak sengaja menangkap bayangan di ujung koridor.

Seorang laki-laki berdiri di sana.Tinggi. Posturnya familiar. Cara berdirinya terlalu ia kenal.Langkah Alana terhenti.”Itu Verdi?”batin nya

Jantungnya berdegup tak beraturan. Tangannya refleks mengerat, seakan tubuhnya tahu lebih dulu bahwa ia sedang tidak siap.Laki-laki itu menoleh.Sekilas, hanya sekilas.

Sorot matanya dingin, asing namun wajah itu terlalu mirip untuk diabaikan. Sebelum Alana sempat memastikan, sosok itu melangkah pergi, menghilang di balik pintu ruang perawatan.

“Dek  kenapa?” tanya sang ibu lirih, menahan kontraksi.

Alana tersentak. Ia menggeleng cepat, memaksa kakinya kembali bergerak.

“Nggak apa-apa, Bu. Kita ke dokter dulu.”

Namun sepanjang lorong, bayangan itu terus menghantuinya.

Jika itu bukan Verdi, mengapa jantungnya bergetar seperti sedang ditagih masa lalu?

Lorong rumah sakit kembali lengang setelah pintu ruang bersalin tertutup rapat.
Alana duduk di bangku besi, punggungnya bersandar lemah. Nafasnya belum sepenuhnya teratur entah karena kelelahan, atau karena bayangan yang sejak tadi tak mau pergi.

Sesekali matanya menoleh ke arah koridor yang tadi ia lihat.Kosong.

Lampu putih menyala stabil, seolah tak pernah ada siapa pun berdiri di sana. Padahal ia yakin. Terlalu yakin untuk sekadar menyebutnya salah lihat.

Postur itu. Langkahnya.Cara kepalanya sedikit menunduk.

Semua terlalu mirip Verdi.

Alana mengepalkan jemarinya. Jika tadi ia berlari jika tadi ia meninggalkan ibu itu hanya sebentar saja tidak.Ia menggeleng pelan, menegur pikirannya sendiri.

Tangis bayi pecah dari balik pintu. Tangis pertama, nyaring, hidup. Perawat keluar dengan senyum tipis.

“Alhamdulillah, bayinya lahir selamat. Ibunya juga stabil.”

Dada Alana menghangat. Ia mengangguk, matanya sedikit basah. Ada lega yang jujur di sana setidaknya satu hal hari ini berakhir baik.

Beberapa menit kemudian, ia berdiri. Bukan untuk pulang.Langkahnya perlahan menyusuri lorong yang sama. Satu per satu pintu ruang perawatan ia lewati. Ia menengok sekilas ke ruang tunggu, ke arah lift, bahkan ke ujung koridor tempat bayangan itu pertama kali ia lihat.Tidak ada siapa-siapa.Seorang perawat menatapnya heran.
“Mbak cari siapa?”

Alana tersenyum tipis, nyaris memaksakan. “Nggak, Mbak,cuma  lihat-lihat aja.”

Ia berbalik.Padahal hatinya tahu ia tidak sepenuhnya berbohong.

Di luar rumah sakit, angin sore menyambutnya. Langit menggantung kelabu, seperti menyimpan hujan yang ragu untuk jatuh.Alana berhenti di anak tangga. duduk,menunduk.Jika itu benar Verdi, mengapa ia tak mencarinya?Atau jika itu bukan Verdi, mengapa rasa sesak ini terasa nyata?

Ia mengeluarkan ponsel. Menatap layar kosong. Tak ada pesan. Tak ada nomor tak dikenal. Tak ada tanda apapun yang bisa dijadikan pegangan.

Mungkin memang begini caranya masa lalu muncul bukan untuk ditemui,melainkan untuk menguji apakah ia sudah benar-benar pergi.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang