Lima puluh sembilan

13 8 0
                                        

Suasana yang semula hening perlahan mencair ketika salah satu pelanggan lama bapak paruh baya yang biasa duduk di pojok berdehem kecil.

“Verdi  kemana aja kamu selama ini?”

Pertanyaan itu seperti membuka pintu.

Beberapa pelanggan lain ikut menoleh, ada yang tersenyum lega, ada pula yang menatap penuh penasaran.

“Iya, Mas,” sahut yang lain. “Warung ini sepi banget tanpa suara kamu.”

Verdi mengangkat kepala. Pandangannya sempat melirik Alana sekilas saja lalu kembali pada mereka. Ia tersenyum tipis, senyum yang tak sepenuhnya utuh.

“Pergi sebentar,ada urusan ,” jawabnya pelan. 

“Nyelesain urusan yang harus diselesaikan.”

“Urusan apa?” tanya seseorang lagi, setengah bercanda.

Verdi menghela napas. Jarinya mengusap senar gitar, bukan untuk dimainkan, hanya sebagai kebiasaan lama.

“Urusan masa lalu,” katanya jujur. “Yang kalau nggak diberesin, bakal ngejar terus.”

Warung seblak kembali sunyi. Tak ada yang memaksa. Mereka seperti mengerti bahwa ada cerita yang tak pantas dijadikan tontonan.

“Yang penting sekarang balik,” ujar pelanggan lain sambil tersenyum. “Itu aja.”

Verdi mengangguk.

“Terima kasih  masih menerima saya di sini.”

Beberapa orang tersenyum, ada yang bertepuk tangan kecil. Kegaduhan pelan kembali hadir bukan bising, tapi hangat.

Alana masih berdiri di balik etalase. 

Tangannya gemetar halus. Ia mendengar semuanya, namun hatinya sibuk menata perasaan yang berdesakan.

Sementara Arkana bangkit pelan dari kursinya.“Saya duluan,” ucapnya lembut pada Alana.

Alana mengangguk, nyaris tak bersuara.

Arkana melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Dan di warung seblak itu, di antara aroma pedas dan kenangan, jarak antara Alana dan Verdi kembali ada dekat, namun belum berani disentuh.

Dini melangkah mendekat ke arah Verdi. Langkahnya pelan, nyaris ragu, seolah takut kehadirannya akan mengganggu sesuatu yang belum selesai antara dua orang itu.

“Verdi,” panggilnya lirih.

Verdi menoleh. Tatapannya terkejut sesaat, lalu berubah tenang.

“Din…”

Dini berdiri di samping kursi favorit itu, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap Verdi cukup lama, memastikan satu hal laki-laki ini benar-benar ada, bukan bayangan, bukan kepergian lagi.

“lo masih hidup, ya,” ucap Dini akhirnya, setengah bercanda, setengah lega.

Verdi tersenyum kecil. “Masih.”

Dini menghela nafas panjang.

Verdi menunduk. Jarinya mengepal di atas gitar.“Aku salah, Din. Banyak banget. Dan aku nggak minta dimaafin sekarang.”

Dini melirik ke arah Alana yang masih sibuk melayani pelanggan, meski jelas pikirannya entah ke mana.

“Kamu punya keberanian buat balik ke sini,” kata Dini pelan. “Sekarang pertanyaannya, kamu punya keberanian buat jujur sepenuhnya ke Alana nggak?”

Verdi terdiam.

“Aku mau,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku juga takut. Takut kalau kehadiranku justru ngerusak ketenangan yang baru dia bangun.”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang