Lima puluh tiga

24 14 0
                                        

Pemakaman Raina berlangsung dalam sunyi yang berat.Langit mendung menggantung rendah, seolah ikut berkabung. Tanah merah masih basah, aroma hujan bercampur dengan bau tanah yang baru digali. Para pelayat berdiri berjarak, sebagian menunduk, sebagian lagi menahan isak.

Verdi berdiri paling belakang.

Hoodie hitam menutupi kepalanya, kedua tangannya mengepal di saku jaket. Ia tak mendekat, tak pula berani. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jenazah itu perlahan diturunkan dan setiap inci jaraknya terasa seperti menekan dadanya semakin dalam.

Doa dipanjatkan.Suara lirih ustaz menggema di langit.

Verdi memejamkan mata.

Di kepalanya berputar potongan masa lalu tawa Raina yang polos, caranya memanggil namanya, dan tatapan yang dulu tak pernah ia pahami sepenuhnya.

Saat tanah pertama dijatuhkan ke dalam, Verdi tersentak.Tubuhnya gemetar.

“Gue minta maaf…” bisiknya hampir tak terdengar.“Kalau aja gue lebih tegas kalau aja gue enggak kabur.”

Air mata jatuh, tak bisa lagi ditahan.

Salah satu kerabat Raina menoleh ke arahnya. Tatapan itu penuh luka, tapi tak ada lagi amarah hanya kelelahan.

Verdi memilih melangkah mundur.

Ia tahu, keberadaannya di sana hanya membuka luka lama.

Maka sebelum doa selesai, ia pergi

meninggalkan makam Raina bersama penyesalan yang akan dibawa seumur hidup.

Di balik pepohonan, Verdi berhenti sejenak.Ia menatap langit abu-abu.

“Tenang ya,” ucapnya lirih.

“Kali ini gue beneran pergi,sekali lagi maaf.”

Dan untuk pertama kalinya, ia berjalan tanpa menoleh lagi.

Saat pemakaman benar-benar usai dan para pelayat telah meninggalkan area itu, suasana berubah sunyi.

Hanya angin sore yang berdesir pelan diantara nisan-nisan.Verdi kembali melangkah masuk ke area pemakaman.

Ia menghampiri makam Raina yang masih baru tanahnya belum rata, bunga tabur masih segar, dan papan nisan kayu sederhana berdiri miring. Verdi berlutut perlahan, jemarinya menyentuh tanah dingin di atas pusara itu.

Dadanya terasa sesak.

“Raina ” suaranya serak.

“Gue dateng pas semuanya udah selesai. Sama kayak dulu gue telat.”

Ia menunduk lama, lalu menghela nafas panjang.

“Gue nggak pernah cinta sama lo seperti yang lo mau,” lanjutnya jujur.

“Tapi gue peduli. Dan gue salah karena nggak cukup jelas, nggak cukup berani nutup semua harapan itu.”

Air matanya jatuh membasahi tanah.

“Maafin gue karena pergi.

Maafin gue karena hidup gue berantakan dan bikin lo terus berharap .”

Verdi mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya benda yang dulu sempat Raina berikan dengan senyum malu-malu.

Ia meletakkannya di atas pusara, tepat di samping bunga.

“Sekarang lo istirahat ya,” bisiknya.

“Gue yang bakal tanggung sisanya.”

Ia berdiri perlahan, menatap makam itu untuk terakhir kalinya.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang