Delapan puluh dua

8 1 0
                                        

Keesokan paginya, Alana datang lebih awal ke warung seblak, berharap hari ini bisa sedikit lebih tenang.

Namun, begitu matanya menatap dinding depan warung, jantungnya seakan berhenti sejenak.

Di dinding, dengan cat semprot warna merah yang mencolok, tertulis jelas:

“MURAHAN”

Alana menatap tulisan itu dengan mata terbelalak, mulutnya seakan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Ini… ini… nggak mungkin… siapa yang berani gini…” gumamnya pelan, napasnya terengah. Tubuhnya gemetar.

Dini datang dari belakang, matanya melebar ketika melihat dinding itu.

Alana menunduk, menutupi wajahnya dengan tangan.

“Kenapa… kenapa semua ini terjadi… aku… aku nggak sanggup…”

Verdi, yang baru datang bersama Faris, langsung melihat dinding itu. Rahangnya mengeras, mata menatap tajam tulisan itu.

“Siapa pun yang bikin ini aku bakal urus. Nggak ada yang boleh ganggu kamu kayak gini, Al,” katanya tegas.

Faris menepuk bahu Verdi.

“Kita harus tenang dulu, Ver. Lan, tarik napas. Kita nggak biarin mereka menangin kita dengan intimidasi kayak gini. Kita hadapi sama-sama.”

Alana masih terdiam, sesekali menatap tulisan itu dengan shock.

“Tapi… ini… ini di depan semua orang… semua bakal liat… aku…”

Dini memeluknya pelan.

“Al… nggak ada yang bakal ngerusak kamu. Kita di sini, kita selesaikan ini bareng. Jangan takut sendirian.”

Verdi menatap dinding itu dengan mata penuh tekad, lalu menoleh ke Alana.

“Al. aku janji, kita bersihkan semua ini. Warung, nama kamu semua. Nggak ada yang berani ganggu lagi.”

Alana menelan ludah, masih shock tapi sedikit menenangkan diri dengan keberadaan Dini, Verdi, dan Faris di sisinya.

Di luar, suara kota mulai terdengar, tapi di dalam warung, sebuah pesan tersirat jelas: ketenangan Alana dan warung sedang terancam, dan musuh mereka sekarang mulai bermain secara terang-terangan.

Alana menatapnya serius, lalu perlahan mengambil ponsel. Dia menunjukkan sesuatu ke Verdi.

“Verdi… lihat ini,” katanya. Foto yang baru saja ia ambil secara diam-diam menampilkan Arkana, berdiri beberapa blok dari warung kemarin malam, menatap warung dengan ekspresi tajam.

Verdi menelan ludah, matanya mengecil.

“Arkana” gumamnya. “Dia dia di sekitar sini?”

Faris yang datang kemudian, melihat layar ponsel itu. Mata Faris menyipit.

“Ini serius, Verdi? Arkana yang sering mengawasi kalian?”

Alana mengangguk pelan.

“Aku nggak tau apa niatnya tapi aku curiga mungkin ini yang bikin karyawan nggak berani datang dan semua fitnah di sosial media.”

Verdi menatap teman-temannya satu per satu, wajahnya tegang.

“Kita harus cari tau. Semua orang yang dekat sama kita bisa kena imbas kalau dia main-main. Kita mulai dari sini. Siapa yang melihat dia kemarin?”

Faris menatap ke arah Verdi.

“Aku kemarin sempat lihat dia dari jauh tapi dia langsung minggat. Nggak mungkin kita kejar waktu itu.”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang