Suasana mendadak berubah kacau ketika langkah-langkah cepat terdengar di lorong rumah sakit. Beberapa laki-laki datang dengan wajah tegang, sorot mata mereka penuh amarah.
Belum sempat Dini bereaksi, satu pukulan keras mendarat tepat di wajah Verdi.
Brak! Verdi terhuyung dan hampir jatuh. Sudut bibirnya pecah, rasa nyeri menjalar cepat. Dini berteriak kaget.
“HEI! APA-APAN INI?!”
Salah satu laki-laki itu maju lagi, rahangnya mengeras.
“Lo pikir gampang ninggalin Raina gitu aja, Verdi?!”
“sekarang lo lihat dampak nya gimana, jika lo ngasih kesempatan buat Raina waktu itu ini semua nggak bakal kejadian. ”
Verdi menyeka darah di bibirnya, menahan diri untuk tidak membalas.
“Gue nggak ninggalin dia,” katanya pelan tapi tegas.”
“Di sini sekarang,” sahut laki-laki itu sinis.
“Ke mana lo waktu dia paling butuh?”
Keributan mulai menarik perhatian. Beberapa perawat berlari mendekat.
“Pak! Tolong tenang! Ini rumah sakit!” teriak salah satu perawat.
Dini berdiri di depan Verdi, refleks melindunginya.
“Kalau mau marah, jangan pakai kekerasan! Kondisi Raina lagi kritis!”
Nama Raina membuat mereka terdiam sesaat. Wajah laki-laki yang memukul Verdi berubah amarahnya bercampur takut.
“Kalau kenapa-kenapa sama dia” suaranya bergetar, “lo tanggung jawab, Ver.”
Verdi mengangguk pelan.
“Gue siap.”
Keheningan menekan lorong itu. Hanya suara langkah dokter yang kembali tergesa keluar dari kamar Raina.
“Keadaan pasien belum stabil,” kata dokter serius. “Kami butuh waktu.”
Semua orang terdiam.
Verdi menunduk, dadanya terasa kosong dan sakit bukan karena pukulan barusan,
tapi karena ia tahu, setelah malam ini,
semua rahasia tak bisa lagi disembunyikan.
Mereka berdiri beberapa langkah dari Verdi, tatapannya tajam, penuh amarah yang bercampur ketakutan takut kehilangan, takut menyesal, takut pada kemungkinan terburuk yang sedang terbaring lemah di balik pintu kamar rawat.
Tangannya mengepal, urat di lehernya menegang.
Seolah satu kata saja dari Verdi bisa memicu pukulan berikutnya. Verdi menyadarinya.
Ia merasakan pengawasan itu berat, menekan, seperti tuduhan tanpa suara.
“Apapun yang terjadi sama Raina,” suara laki-laki itu akhirnya keluar, rendah dan bergetar,“lo nggak akan pernah lepas dari ini.”
Verdi mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, bukan karena sakit fisik.
“Aku nggak pernah mau lepas,” jawabnya lirih. “Aku cuma salah memilih cara.”
Dini menelan ludah. Ia bisa merasakan ketegangan yang menggantung, rapuh, seakan satu tarikan nafas bisa memecahkannya.
Pintu kamar Raina kembali tertutup rapat. Lampu indikator di atasnya masih menyala.
Dan di lorong rumah sakit itu,
amarah belum padam,rasa takut belum reda,dan masa lalu Verdi berdiri tepat di hadapannya mengawasi, menunggu, dan siap menghancurkan segalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
