Saat Alana hendak keluar dari kafe, tiba-tiba BRUK!—dia bertabrakan dengan seseorang.
"Eh, maaf!" ucap Alana spontan sambil mundur selangkah.
Namun, saat dia mengangkat wajahnya, jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Pria itu lagi.
Pria misterius yang berpakaian serba hitam, dengan kacamata hitam dan topi yang sedikit menutupi wajahnya. Sejak pertama kali melihatnya beberapa hari lalu, Alana merasa ada sesuatu yang aneh tentang orang ini.
Pria itu tidak berkata apa-apa, hanya sedikit menundukkan kepala sebelum melangkah masuk ke dalam kafe.
Alana menelan ludah. "Siapa sih " pikirnya.
Dia sempat menoleh ke arah dalam kafe, melihat pria itu berjalan ke sudut ruangan, duduk sendiri, dan tampak sibuk dengan ponselnya.
Entah kenapa, perasaan waspada mulai muncul di benaknya. Namun, dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk.
"Udahlah, mungkin cuma kebetulan," gumamnya pelan sambil melangkah keluar.
Tapi tetap saja, ada sesuatu tentang pria itu yang membuat Alana merasa aneh.
Saat melangkah keluar dari kafe, Alana tiba-tiba teringat sesuatu. Pria itu…
Tatapannya kembali beralih ke dalam kafe, memperhatikan pria misterius itu yang kini duduk sendirian, sibuk dengan ponselnya. Dia bukan orang asing.
Alana mengerutkan kening, mencoba mengingat dengan jelas. Lalu, seolah ada potongan memori yang kembali ke benaknya pria itu adalah orang yang pernah bertabrakan dengannya di rumah sakit saat dia menjenguk Verdi.
Jantungnya berdetak lebih cepat. "Kenapa dia muncul lagi? Kebetulan? Atau…?"
Alana merasakan firasat aneh. Dua kali bertemu dalam situasi yang berbeda, tapi dengan pola yang sama. Tabrakan. Seolah pria itu memang selalu ada di jalannya.
Perasaan waspada mulai menjalar di tubuhnya. Tapi dia juga gak mau terlalu paranoid. Bisa saja memang hanya kebetulan.
"Gak mungkin kan dia sengaja ngikutin gue?" batinnya, mencoba menenangkan diri.
Alana menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. "Udahlah, mungkin cuma kebetulan," gumamnya dalam hati.
Dia memilih untuk berpikir positif. Mungkin pria itu hanya seseorang yang kebetulan ada di tempat yang sama dengannya. Lagipula, gak ada bukti kalau dia benar-benar mengikuti Alana.
"Jangan kebanyakan mikir yang aneh-aneh, Alana," katanya pada diri sendiri sambil melangkah menjauh dari kafe.
Sesampainya di warung seblak, Alana langsung kembali fokus ke pekerjaannya. Dia gak mau buang-buang waktu mikirin hal yang belum tentu benar. Yang penting sekarang, dia harus siap menghadapi pelanggan yang ramai karena hari masih rame.
Sesampainya di warung seblak, Alana langsung melihat seseorang yang membuatnya mendesah pelan.
Raka masih di sana.
Cowok itu duduk santai di salah satu meja, tampak menikmati semangkuk seblak sambil memainkan ponselnya. Begitu melihat Alana masuk, senyumnya langsung melebar.
"Eh, akhirnya lo balik juga! Gue kira lo kabur karena takut ketemu gue," ucap Raka dengan nada menggoda.
Alana memutar bola matanya. "Ngapain lo masih di sini? Warung ini bukan tempat nongkrong gratis."
Raka tertawa kecil. "Yaelah, gue kan bayar. Lagian seblak di sini enak, mana mungkin gue langsung pergi?"
Dini yang sedang membereskan meja ikut tertawa melihat interaksi mereka. "Udah, Al. Terima aja kenyataan kalau lo punya penggemar setia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
