Tiga puluh satu

14 6 0
                                        

Malam itu udara sebenarnya tidak terlalu panas, tapi tubuh Alana justru terasa seperti terbakar dari dalam. Dini yang sedari sore menemaninya mulai gelisah melihat perubahan suhu tubuh Alana.

“Al kamu makin panas,” ucap Dini pelan sambil menempelkan punggung tangan ke dahi sahabatnya. “Astaga, ini naik lagi. Kamu gemeteran juga.”

Alana menarik napas pendek. Dadanya terasa sesak, matanya berair bukan karena ingin menangis, tapi karena panasnya benar-benar menyiksa.

“Din aku nggak enak banget. Badanku kayak nggak kuat,” Alana berbisik, suaranya parau.

Dini segera mengambil handuk kecil yang sudah ia siapkan, merendamnya di air hangat, lalu mengompres leher dan dahi Alana. 

“Ya, Allah kok makin naik sih,” gumam Dini panik.

Alana memejamkan mata, tetapi pikirannya tidak tenang. Setiap kali ia mencoba tidur, wajah Verdi selalu muncul di tengah gelap, di tengah hujan, dalam kondisi tidak baik. Mimpinya jam tiga malam tadi masih membekas, seperti tanda yang tidak boleh diabaikan.

“Din” suara Al pecah, “kayak ada yang dorong aku buat nyari dia. Rasanya tuh nggak enak banget di hati.”

Dini meremas tangan Al.
“Aku tahu. Tapi kamu harus sembuh dulu. Kamu makin panas gara-gara kepikiran dia terus.”

Alana membuka mata perlahan, matanya merah dan sayu.
“Din kalau sama orang lain aku nggak begini. Tapi Verdi hilang gitu aja tanpa kabar terus ada pesan aneh segala” Suaranya menurun, bergetar. “Aku takut, Din.”

Dini mengusap rambut sahabatnya pelan.
“Ya Allah, Al aku juga takut. Tapi kamu harus kuat, oke? Kita cari dia setelah kamu agak mendingan.”

Alana tiba-tiba bergetar hebat, tubuhnya memanas seperti api.

Dini langsung berdiri. “Bentar! Aku ambil air hangat sama paracetamol lagi!”

Ia berlari ke dapur dengan langkah terburu-buru, sementara Alana menggigit bibir menahan rasa tidak nyaman yang semakin meningkat. Peluh menetes dari pelipisnya, nafasnya berat.

Di dalam benaknya, satu bayangan muncul makin jelas:
verdi duduk sendirian, terlihat kacau seperti meminta tolong.

Alana memejamkan mata kuat-kuat, sebuah bisikan doa meluncur lirih dari bibirnya:

“Ya Allah… lindungi Verdi tolong jaga jaga dia”

Dan di luar kamar, Dini yang sedang menyiapkan air mendadak berhenti ketika HP-nya bergetar lagi di meja.

Sebuah notifikasi baru masuk.
Dari nomor yang sama, meski sebelumnya sudah memblokir.

“berhenti mencari verdi"

Setelah mengirimkan pesan itu no itu tidak aktif lagi. 

Kali ini Dini benar-benar merasakan dingin menjalar ke tengkuknya.

Dini terpaku. Tangannya yang memegang gelas bergetar halus.

Ia menelan ludah, menatap layar ponsel yang kini terasa jauh lebih menyeramkan daripada apa pun.

Pesan itu seperti ancaman yang ditulis dengan santai.
Dini langsung mematikan layar, napasnya sesak, lalu bergegas kembali ke kamar Alana sambil memaksa dirinya bersikap normal.

“Din” Al memanggil lirih, mencoba duduk namun tak kuat.

“Jangan bangun dulu, Al,” kata Dini cepat, berusaha menyembunyikan gemetar di suaranya. “Ini minum dulu. Biar panasnya turun.”

Alana menatap Dini dengan mata yang nyaris berkaca-kaca.
“Din… kenapa kamu terlihat pucat?”

Dini tersenyum paksa. “Nggak-nggak apa-apa. Cuma capek.”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang