Tujuh puluh tiga

19 8 9
                                        

Alana berdiri di sudut kontrakan, ponsel di tangannya sejak beberapa menit lalu.

Nama Verdi masih terpampang di layar berdering, lalu terputus.Ia mencoba lagi.

Sekali.Dua kali.Tetap tak ada jawaban.

Dini yang sedang melipat pakaian melirik sekilas, tak bertanya, tapi jelas memperhatikan.

Alana menghela nafas pelan, lalu duduk di tepi kasur. Jarinya gemetar saat menulis pesan.

"Ver , kamu kenapa? Aku cuma mau tahu kamu baik-baik saja."

Pesan terkirim.

Dibaca? Belum.

Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.

Alana mematikan layar, lalu menatap kosong ke jendela. Bayangan Verdi terlintas tatapan singkatnya di warung, langkahnya yang pergi tanpa suara gitar, kopi yang bahkan tak disentuh. Dadanya terasa sesak oleh hal-hal yang tak terucap.

Tak lama, ponselnya bergetar.

Satu notifikasi.

Alana langsung membuka harapan dan takut bercampur.

Verdi: "Maaf, Lan. Aku nggak bermaksud bikin kamu bingung tapi aku mau sendiri dulu."

Hanya itu.

Alana menelan ludah, lalu membalas cepat.

"Kalau bukan maksudmu, lalu apa, Ver? Aku cuma pengen kamu jujur."

Beberapa detik.Satu menit.Dua menit.

Akhirnya balasan itu datang.

Verdi: "Aku lagi nyoba ngelindungin kamu dengan caraku sendiri."

Alana memejamkan mata.

Kata-kata itu tak menenangkan justru membuatnya semakin gelisah.

"Aku nggak minta dilindungi dengan menjauh," ketiknya pelan tapi tegas. "Aku cuma mau ditemani,kita jalani sama sama."

Di sisi lain kota, Verdi menatap layar ponselnya lama sekali. Jari-jarinya kaku. Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan tentang bunga-bunga misterius, tentang tatapan Arkana yang tak ramah, tentang rasa takut kehilangan tapi semua terasa terlalu rumit untuk ditulis.

Akhirnya ia mengetik satu kalimat sederhana.

Verdi: "Besok aku jelasin semuanya. Janji."

Alana membaca pesan itu berulang kali.

Ia tak tahu harus lega atau justru semakin khawatir.Ia hanya membalas satu kata

"Iya."

Malam itu, Alana memeluk ponselnya sebelum tidur.

Sementara di tempat lain, Verdi menatap langit-langit kamar, sadar satu hal

Esok hari, tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan.

Keesokan paginya, warung seblak belum seramai biasanya. Udara masih dingin, sisa hujan semalam membuat aspal di depan warung berkilau.

Alana datang lebih awal, membantu menata meja sambil sesekali melirik ponselnya. Tidak ada pesan baru dari Verdi sejak tadi malam.

Dini memperhatikan dari kejauhan.

"Kamu nunggu seseorang?" tanyanya ringan, pura-pura tak tahu apa-apa.

Alana menggeleng cepat. "Nggak cuma kepikiran stok seblak."

Dini hanya mengangguk, tapi hatinya tahu Alana sedang menunggu.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang