duapuluh enam

44 29 0
                                        

Malam itu suasana warung seblak benar-benar riuh. Lampu-lampu kecil di atas meja membuat suasana jadi hangat, tapi suasana di dapur justru panas — bukan cuma karena kompor yang menyala, tapi juga karena semua sibuk luar biasa.

Kursi-kursi penuh, suara tawa anak muda terdengar di setiap sudut. Aroma kuah pedas bercampur bawang goreng memenuhi udara.

Dini berteriak dari kasir,
“Lan! Tambah dua porsi level empat! Bawa minumannya sekalian!”
“Siap!” jawab Alana cepat, tangannya lincah ngaduk seblak di wajan besar.

Verdi datang dari belakang bawa nampan penuh gelas es teh, tapi matanya tetap sempat nyengir ke arah Alana.
“Gila, rame banget malam ini. Gue rasa karena ada gue deh, pembawa rezeki,” katanya dengan bangga.
Alana menoleh sekilas, “Iya, pembawa rezeki sekaligus pembawa ribut.”

“Ih, lo ngomel mulu, tapi tetep kerja bareng gue,” balas Verdi santai sambil taruh gelas di meja pelanggan.

Beberapa pengunjung yang masih ingat kejadian siang tadi mulai berbisik-bisik, “Eh itu yang dibilang nenek-nenek jodoh tuh ya?” disertai tawa kecil.

Alana yang dengar langsung manyun, tapi tetap pura-pura cuek.
Dini dari kasir cuma senyum-senyum lebar, jelas banget menikmati kekacauan kecil itu.

Satu karyawan nyeletuk sambil lewat,
“Kak Alana, katanya yang masak sambil senyum rasanya lebih enak loh, jangan cemberut mulu.”
Semua pada ngakak, termasuk Verdi.
“Tuh, dengerin kata mereka. Senyum dikit, Chef Alana.”
Alana meletakkan sendok sayur dan menatap Verdi tajam,
“Mau gue celupin ke kuah level lima?”
“Asal lo ikut nyelup bareng gue, gapapa,” jawab Verdi cepat.

Dini hampir jatuh dari kursi karena ngakak.
“Astaga, kalian tuh kayak sinetron live!”

Suasana malam itu benar-benar ramai — bukan cuma karena pembeli yang berdesakan, tapi juga karena candaan dan tawa yang terus mengalir.
Warung itu bukan sekadar tempat jualan seblak lagi, tapi seperti tempat cerita baru yang selalu ada kejutan tiap harinya.

Dan di antara hiruk pikuk malam itu, Alana sempat melirik Verdi yang sibuk bantu karyawan.
Entah kenapa, hatinya bergetar sedikit.
Bukan karena panas kompor, tapi karena perasaan yang belum bisa ia jelaskan.

Warung akhirnya tutup sekitar pukul sepuluh malam.
Udara luar sudah dingin, aroma pedas dari kuah seblak masih menempel di tangan Alana dan Dini yang sibuk merapikan meja.

“Capek banget sumpah,” keluh Alana sambil menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri di kursi.
Dini menatapnya dengan senyum geli.
“Capek sih capek, tapi tadi gue liat lo senyum mulu, Lan. Jangan bilang gara-gara seseorang ya?”

Alana menatap Dini tajam.
“Jangan mulai deh.”
Dini terkikik. “Aduh, yang tadi dibelain Verdi waktu ada pelanggan ribut aja langsung nunduk.
Udah jelas tuh, Verdi perhatian bukan main.”

Alana pura-pura sibuk nyapu.
“Dia tuh cuma bantu, Din. Lagian… mana mungkin.”
“Mana mungkin apaan? Lo pikir gue gak liat cara dia liatin lo tadi?
Kayak… ya ampun, tatapan ‘gue jagain lo dari belakang kompor’ banget.”

Alana langsung menunduk, pipinya memanas.
“Lo tuh ya, kalau gak becandain gue, gak bisa tidur kayaknya.”

Dini tertawa terbahak.
“Ya abis lucu, Lan! Nih ya, setiap hari lo ngeluh soal Verdi nyebelin, tapi pas dia gak dateng sehari aja, lo bete.
Ngaku aja deh.”

Alana pura-pura gak denger, malah masuk ke dapur dan mulai cuci tangan.
Tapi dalam hatinya, ada kalimat Dini yang terus berputar — “lo bete kalau dia gak dateng.”
Dia terdiam beberapa detik, lalu berbisik pelan,
“Ah, mana mungkin…”

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang