Seperti biasa, pagi ini Alana dan Dini memulai hari mereka dengan kegiatan rutin. Setelah sholat Subuh, mereka menyiapkan sarapan sederhana, membersihkan rumah, lalu bersiap untuk berangkat ke warung seblak.
"Hari ini semoga nggak ada drama lagi, ya," ujar Alana sambil memasang helmnya.
Dini tertawa kecil. "Siapa tahu ada kejutan. Hidup lo kan penuh kejutan, Al."
Alana hanya menghela napas panjang sebelum menyalakan motor. Mereka berdua pun melaju menuju warung seblak, menikmati udara pagi yang masih segar.
Sesampainya di warung, beberapa karyawan sudah datang lebih dulu dan mulai bersiap-siap. Warung pun mulai beroperasi seperti biasa, menyambut pelanggan yang datang untuk menikmati seblak di pagi hari.
Alana menerima kertas yang dilipat dari salah satu karyawan. Dengan alis berkerut, dia membuka lipatannya dan membaca tulisan singkat di dalamnya:
"Jauhin dia."
Alana mengerutkan kening, tidak mengerti siapa yang mengirimkan pesan itu dan siapa yang dimaksud dengan "dia." Pikirannya langsung berputar-apakah ini ada hubungannya dengan Verdi? Atau mungkin Raka? Atau ada orang lain yang dia tidak sadari keberadaannya?
Namun, daripada memikirkan hal yang belum jelas, Alana memilih untuk mengabaikannya. Dia melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke saku celemeknya. "Nggak penting," gumamnya dalam hati, lalu kembali fokus menyelesaikan pesanan pelanggan.
Meski mencoba mengabaikan, dalam benaknya ada sedikit rasa penasaran. Siapa yang mengirimkan pesan itu? Dan apa maksud sebenarnya?
Alana menghela napas panjang, mencoba mengabaikan isi kertas itu. "Nggak usah dipikirin, fokus kerja aja," batinnya.
Dia kembali sibuk membuat seblak pesanan pelanggan. Warung mulai ramai, suara obrolan bercampur dengan suara penggorengan yang berbunyi. Dini yang melihat Alana tiba-tiba lebih diam dari biasanya, menatapnya dengan curiga.
"Lo kenapa, Al?" tanya Dini sambil menyendok seblak ke dalam mangkuk.
"Nggak apa-apa," jawab Alana cepat, berusaha terlihat biasa saja.
Dini mengangkat alis, tidak terlalu percaya, tapi memilih untuk diam. Alana pun melanjutkan pekerjaannya, berusaha mengalihkan pikirannya dari pesan aneh yang baru saja dia terima. Namun, di dalam hati, dia tahu bahwa dia tidak akan bisa mengabaikannya begitu saja.
Tak beberapa lama, suara pintu warung terbuka, dan langkah seseorang terdengar mendekat. Alana yang sedang menuangkan kuah seblak ke dalam mangkuk tiba-tiba merasakan firasat tidak enak.
Dia mengangkat kepala dan-yap, benar saja. Raka.
Cowok yang selama ini dia hindari itu berdiri di depan kasir dengan senyum lebar yang membuat Alana langsung ingin menghilang ke dalam wajan seblaknya.
"Pagi, Alana! Kangen gue nggak?" ujar Raka santai, seolah mereka teman dekat.
Dini yang melihat ekspresi Alana langsung menahan tawa di belakangnya. "Al, lo tuh harusnya seneng dong punya fans setia gini," bisik Dini pelan.
Alana mendengus, menaruh sendok sayurnya dengan agak keras. "Lo mau mesen apa?" tanyanya dingin, berharap Raka hanya mampir sebentar dan pergi.
"Gue nggak mesen makanan. Gue mesen perhatian lo," jawab Raka santai sambil nyengir.
Alana nyaris kehilangan kesabaran. "Kalau nggak mesen, warung ini bukan tempat nongkrong gratis," ucapnya ketus.
Namun, bukannya tersinggung, Raka malah tertawa puas. "Tenang, tenang, gue mau mesen kok. Seblak level lima, pake ceker, batagor, dan hati lo," katanya sambil berkedip jahil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
