Enam puluh dua

13 6 0
                                        

Setelah semuanya selesai, Verdi berdiri dan meraih jaketnya.

“Gue anterin lo pulang,” katanya.

Alana menoleh sebentar, lalu menggeleng pelan.

Verdi terdiam sesaat, lalu mengangguk.

Mereka keluar dari kafe bersama. Pintu kaca menutup pelan di belakang mereka, menyisakan kafe yang kembali sunyi. 

Jalanan sudah tidak seramai tadi, hanya lampu-lampu kota yang memantul di aspal lembab.Langkah mereka sejajar, tapi tidak saling menyentuh.

Angin malam berhembus pelan. Alana memeluk jaketnya, sementara Verdi memasukkan tangan ke saku, menatap lurus ke depan.

Beberapa meter berjalan, Verdi membuka suara,

“Lo kenapa nyamperin gue?”

Alana menatap jalanan.

“Karena gue denger kabar lo nggak baik-baik aja.”

Verdi tersenyum kecil, getir.

“Dan lo langsung datang.”

Alana menghela nafas panjang.

“Gue nggak bisa pura-pura nggak peduli.”

Mereka kembali diam.

Langkah kaki mereka terdengar jelas di trotoar yang sepi. Sesekali motor lewat, lalu menghilang di tikungan.

“Al,” kata Verdi pelan, “kalau nanti gue harus ngilang lagi”

Alana berhenti melangkah.

“Jangan ngomong gitu,” potongnya.

“Kalau lo mau pergi, bilang. Jangan bikin orang nebak-nebak.”

Verdi ikut berhenti. Ia menatap Alana dari samping.

“Gue bakal bilang.”

Alana melanjutkan langkahnya.

“Jadi lo mau hilang untuk kedua kalinya?”

Verdi hanya diam.

Sisa perjalanan mereka lewati dengan hening yang lebih hangat dari sebelumnya. Tidak canggung, tidak berat hanya dua orang yang sama-sama lelah tapi masih ingin berjalan berdampingan.

Saat kontrakan Alana mulai terlihat, langkah mereka melambat.

Malam itu, mereka belum menyelesaikan semuanya.Tapi setidaknya,mereka memilih berjalan bersama,meski pelan.

Verdi berhenti melangkah tepat di depan kontrakan Alana. Lampu teras menyala redup, membuat bayangan mereka jatuh memanjang di tanah.

Alana menoleh, menatap wajah Verdi yang masih menyisakan lebam.

“Lo yakin nggak mau cerita?”

Verdi menghela nafas, lalu tersenyum tipis senyum yang dipaksakan.

“Enggak sekarang.”

“Kenapa?” suara Alana melembut, tapi matanya tegas.

Verdi menggeleng pelan.

“Karena nggak semua luka harus lo tau penyebabnya.”

Ia menunduk sejenak. “Yang penting… gue masih berdiri.”

Alana mengepalkan jarinya. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, tapi ia memilih menelannya.

“Lo selalu kayak gini,” katanya lirih. 

Verdi mengangkat bahu.

“Gue cuma nggak mau lo ikut kebawa.”

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang