Delapan puluh tujuh

5 1 0
                                        

Ravel berdiri kaku beberapa detik.Matanya berkeliling tidak ada lagi yang siap maju bersamanya,ia mengatupkan rahang,mengangkat tangan.Isyarat mundur,satu per satu,mesin dinyalakan.

BRRRAAAM

Suara knalpot pecah, saling bertindih.

Bukan teriakan kemenangan melainkan suara orang-orang yang memilih meninggalkan medan.

Gas ditarik keras,motor-motor melaju menjauh,satu jalur,satu arah.

Asap mengepul di udara.Bau bensin,karet, dan amarah yang belum sempat meledak

tertinggal di tempat itu.

Lalu sunyi.Setelah Mereka Pergi ,tidak ada sorak,tidak ada tepuk tangan,hanya deru mesin yang perlahan mematikan diri.

Bima menghembuskan napas panjang.

"Nyaris."

Nero mengangguk.

"Kalau satu percikan lagi-habis."

Jaya menatap bekas goresan di motor arkana."Ini bukan soal balap lagi."

Arkana berdiri diam.matanya mengikuti asap yang menghilang di gelap.

"Dia pergi," gumamnya.

"Tapi belum tentu selesai."

Verdi melangkah ke sampingnya.

"Yang penting malam ini berhenti."

Mereka saling pandang,tidak sebagai lawan,tidak sebagai pemenang,tapi sebagai dua orang yang selamat dari perang yang hampir bukan milik mereka.

Angin malam menyapu sisa asap,

langit tetap gelap,tapi untuk pertama kalinya sejak lama tidak ada mesin yang mengejar.

Suara knalpot benar-benar hilang.

Arkana melangkah maju satu langkah,bukan ke tengah kerumunan

tapi ke arah Verdi.Ia menunduk,tidak dalam,tapi cukup untuk menunjukkan satu hal ia sadar.

"Verdi," katanya pelan.

"Gue minta maaf."

Verdi menatapnya,tidak memotong.

"Gue bawa dendam ke tempat yang salah."

"Gue bikin hidup lu, hidup Alana ikut rusak."

"Semuanya jadi kacau karena gue nggak berhenti tepat waktu."Ia menghela napas.

"Harusnya dari awal gue cari kebenaran.

Bukan pembenaran."

Sunyi sebentar,lalu Bima maju,topi nya dilepas,wajahnya serius.

"Gue juga," katanya.

"Kita kebablasan.kalian nggak pernah ngajarin main kotor."

Nero menyusul.

Suaranya lebih rendah.

"Gue sempat ragu, tapi gue telat."

"Dan karena itu lu hampir kena."

Jaya mengangguk pelan.

"Kalau malam ini kejadian buruk beneran

itu jadi tanggung jawab kita juga."

Tidak ada yang menyalahkan siapapun,tidak ada alasan,hanya kalimat-kalimat yang lahir

setelah ego ditinggal di belakang.

Verdi akhirnya bicara.

"Gue nerima,tapi satu hal."

Semua menatapnya.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang