Sore itu hujan masih rintik. Bau cat dan tanah basah nyampur, bikin suasana warung seblak jadi adem banget.
Alana duduk di bangku depan, tangannya masih belepotan cat putih. Verdi datang dari belakang sambil bawa dua gelas es teh.
“Nih, buat lo. Katanya abis ngecat itu haus banget.”
Alana ngambil gelasnya, nyeruput sedikit.
“Hm… lumayan. Lo gak salah racik kali ini.”
Verdi nyengir. “Wah, berarti kemarin salah ya?”
“Banget,” jawab Alana datar, tapi ujung bibirnya keliatan nahan senyum.
Mereka duduk bareng di depan warung yang udah mulai keliatan lebih cantik — daun-daun hijau di pinggir pintu, tulisan menu baru di dinding, dan kursi warna pastel yang masih setengah kering.
“Lucu juga hasilnya ya,” kata Verdi sambil ngelihat sekitar.
“Lucu karena idenya dari gue,” balas Alana cepat.
“Iya iya, bos besar,” Verdi angkat tangan pura-pura nyerah.
Beberapa detik berlalu dalam diam, cuma suara hujan dan kendaraan yang lewat pelan.
Tiba-tiba, Verdi nyeletuk pelan,
“Lo tau gak, Lan… gue suka cara lo serius sama hal kecil.”
Alana yang lagi minum hampir keselek.
“Apaan sih ngomong tiba-tiba kayak gitu—”
“Ya bener. Lo tuh… unik aja. Jarang banget orang yang bisa bikin suasana seribet ini jadi tenang.”
Alana diem. Pandangannya beralih ke luar jendela, tapi pipinya mulai memanas.
“Lo kebanyakan minum es teh kali,” gumamnya.
Verdi cuma ketawa kecil. “Mungkin. Tapi serius, gue gak bercanda.”
Alana cuma tersenyum tipis tanpa menatap Verdi.
Dalam hati, ada rasa hangat yang belum pernah dia rasain lagi sejak lama —
sesuatu yang sederhana tapi bikin jantungnya gak tenang.
Hujan mulai reda, cuma sisa gerimis halus yang jatuh di jalanan. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, bikin semuanya terlihat lembut dan agak sendu.
Alana keluar dari warung, masih bawa tas kecil dan jaket di tangan. Verdi udah nunggu di motor, helm satu lagi dia sodorin sambil senyum kecil.
“Ayo, sebelum hujannya balik lagi.”
Alana ngangguk pelan, pakai helm itu.
Begitu motor jalan pelan, angin malam nyentuh wajah mereka — dingin tapi tenang.
Di tengah jalan, Verdi tiba-tiba ngomong tanpa nengok,
“Eh, lo sadar gak? Warung kita bakal hits banget buat foto.”
Alana ketawa kecil. “Warung kita? Sejak kapan jadi punya lo juga?”
“Ya dari tadi. Gue kan ikut kerja, ikut capek, jadi ikut bangga.”
“Gak salah sih,” jawab Alana, suaranya pelan tapi ada senyum yang gak bisa dia tahan.
Mereka melewati jalan yang diterangi lampu oranye redup. Di atas langit, sisa hujan jatuh satu-satu. Verdi menepikan motor sebentar di pinggir jalan yang sepi.
“Ngapain berhenti?” tanya Alana bingung.
“Tunggu… bentar aja.”
Verdi turun, buka jas hujannya, lalu pasangin ke Alana yang dari tadi cuma nutupin kepala pakai jaket.
“Lo gampang sakit, jangan maksa kuat terus,” katanya pelan.
Alana terdiam. Ada sesuatu di suaranya Verdi yang gak biasa — lembut, tulus.
“Lo tuh aneh,” jawab Alana akhirnya, setengah malu.
“Aneh tapi perhatian, ya?” Verdi menyeringai.
Alana cuma menghela napas panjang, pura-pura kesel.
Motor kembali melaju, kali ini lebih pelan.
Sepanjang jalan pulang, Alana cuma diam… tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai berubah.
Perasaan yang gak dia rencanakan, tapi perlahan tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini.
Pagi itu matahari udah mulai naik, sinarnya masuk lewat jendela kamar kos. Aroma roti bakar dan kopi instan memenuhi ruangan kecil itu. Dini duduk di depan TV sambil main HP, sementara Alana sibuk menata rambutnya di depan cermin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
