Malam itu, motor Verdi berhenti di sebuah taman kecil yang lampunya temaram.
Tidak ramai.Hanya beberapa orang duduk berjauhan, dan suara jangkrik bercampur angin malam.
Alana turun lebih dulu.Ia berdiri memunggungi Verdi, menatap ayunan yang berderit pelan tertiup angin.
Verdi mematikan mesin motor, lalu mendekat dengan jarak aman.
Tidak berani terlalu dekat.
“Lo mau jelasin sekarang?” tanya Alana datar.
Verdi mengangguk. “Iya. Kalau gue tunda lagi gue takut gak akan pernah berani.”
Alana menarik napas panjang. “Ngomong.”
Verdi duduk di bangku taman. Tangannya gemetar sedikit. Ia mulai bercerita.
Tentang klub motor.Tentang Raina.
Tentang kecelakaan, koma, dan rasa bersalah yang selama ini dia simpan sendirian.
“Gue pikir.kalau gue jauh dari lo, lo aman,” katanya dengan suara serak. “Gue salah. Gue malah nyakitin lo.”
Alana terdiam.
Dadanya naik turun.“Lo tau yang paling nyakitin apa?” suara Alana bergetar.
Verdi mengangguk pelan. “Itu kesalahan terbesar gue.”
Alana menyeka matanya cepat, menolak air mata jatuh. “Raina?”
Verdi mengangkat kepala. “Gue gak pernah cinta dia, Al. Gue cuma gagal jujur sama semua orang termasuk diri gue sendiri.”
Hening.
Lampu taman berkedip pelan.
Alana akhirnya duduk di bangku lain, agak berjauhan. “Gue kecewa. Banget.”
“Iya,” jawab Verdi lirih.
“Dan gue terima itu.”
Alana menatap langit. “Gue gak tau masih bisa percaya apa enggak.”
Verdi berdiri, tapi tetap menjaga jarak. “Gue gak minta lo percaya sekarang.
Gue cuma minta satu hal”
“Apa?” Alana menoleh.
“Biarin gue buktiin. Pelan-pelan.
Tanpa kabur lagi.”Alana diam lama.Angin malam menyapu hijabnya.
“Aku gak janji,” katanya akhirnya. “Tapi Aku juga gak mau lari.”
Verdi tersenyum kecil. Matanya basah. “Itu udah lebih dari cukup.”
Mereka duduk di taman itu tanpa bicara lagi.Tidak saling menyentuh.
Tidak saling berjanji.Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama,dan menyelesaikan permasalahan.
Dan malam itu,taman kecil itu menjadi saksi.bahwa harapan mereka belum mati,
hanya sempat tersesat.
Malam makin larut.Lampu taman menyisakan cahaya kuning yang lembut, membuat bayangan mereka jatuh memanjang di paving basah.
Verdi dan Alana masih duduk di bangku yang sama, tapi dengan jarak yang tetap dijaga.Tak ada kalimat “aku cinta kamu”.
Hanya diam yang penuh makna.
“Aneh ya,” ucap Alana pelan, menatap lurus ke depan.
“Dulu kita ribut soal hal sepele.
Sekarang mau ngomong perasaan aja rasanya berat.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
