Tujuh puluh satu

17 9 6
                                        

Dan setelah itu, semuanya kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Alana fokus di balik kompor, mengaduk kuah seblak dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala. Uap panas naik, bercampur aroma kencur dan cabai. Sesekali ia melirik daftar pesanan, memastikan tak ada yang terlewat.

Dini mondar-mandir di area depan, mencatat pesanan, menyapa pelanggan dengan senyum khasnya. Nada suaranya kembali ceria, seolah drama tadi tak pernah terjadi.

Para karyawan bergerak kompak

mengantar pesanan,membersihkan meja,

menjawab pertanyaan pelanggan Gen Z yang sibuk foto dan video.

Verdi kembali ke tempat duduk favoritnya. Gitarnya ia sandarkan, tangannya kini sibuk dengan gelas minum, sesekali menatap Alana dari jauh tanpa berani terlalu lama.

Semua terlihat normal.

Ramai.Hidup.Namun di balik kesibukan itu, masing-masing menyimpan pikirannya sendiri tentang rasa,tentang cemburu kecil yang disembunyikan,dan tentang hal-hal yang belum berani diucapkan.

Malam terus berjalan.Warung seblak tetap hidup.Malam itu, suasana warung seblak berubah hangat.Beberapa pelanggan mulai merapat ke kursi Verdi, ada yang menarik kursi, ada yang duduk di lantai beralas jaket.

“Bang, nyanyi dong,”

“Lagu galau ya,”

“Yang bisa buat lupa mantan,” sahut yang lain sambil tertawa.

Verdi tersenyum kecil. Ia meraih gitar, menyesuaikan senar.

“Nyanyi bareng ya,” katanya singkat.

Petikan pertama terdengar. Kali ini ia benar-benar bernyanyi. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk mengisi malam. Beberapa pelanggan ikut bersenandung, ada yang merekam, ada yang hanya menutup mata menikmati suasana.

Alana melirik dari balik dapur. Bibirnya tersenyum tanpa sadar.

Warung yang biasanya riuh oleh suara panci dan pesanan, malam itu dipenuhi nyanyian, tawa, dan kebersamaan.

Dini berdiri di samping Alana.

“Kalau tiap malam gini, warung kita bukan cuma jual seblak,” katanya pelan.

Alana mengangguk.

“Iya jual rasa juga.”

Dan malam itu,di bawah lampu sederhana warung seblak,semua orang bernyanyi

tanpa tahu,ada dua hati yang ikut larut dalam lagu yang sama.

Lagu demi lagu mengalir tanpa terasa.

Beberapa pelanggan ikut tepuk tangan mengikuti irama, ada yang bernyanyi sumbang tapi penuh semangat. Tawa pecah di sela-sela nada, membuat malam terasa ringan. Bahkan karyawan yang biasanya sibuk ikut menyanyi sambil bekerja.

Verdi tersenyum lebih lepas. Ia sempat melirik Alana sekilas saja lalu kembali fokus pada gitarnya. Tidak berani lama-lama, takut ketahuan, takut rasa itu terbaca.

Alana pura-pura sibuk. Tangannya terus bergerak, tapi hatinya ikut duduk di kursi dekat Verdi.Menjelang larut, satu per satu pelanggan pamit.

“Bang, next time nyanyi lagi ya,”

“Warung ini vibes-nya beda.”

Verdi mengangguk.

“Siap. Hati-hati pulang.”

Warung kembali agak lengang. Dini mulai membereskan meja, karyawan menghitung sisa bahan. Alana menutup kompor terakhir.

Verdi berdiri, menyampirkan gitar ke punggung.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang