Sementara itu, di sisi lain kota, Alana menutup pintu kamarnya rapat.
Begitu pintu itu terkunci, pertahanannya runtuh.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya bergetar hebat, nafasnya tersengal, air mata jatuh tanpa bisa dikendalikan. Ia menekan wajahnya ke bantal, berusaha meredam suara isaknya bukan karena kuat, tapi karena lelah.
Hatinyanya terasa penuh dan kosong di waktu yang sama.Ia kecewa.Bukan hanya pada Verdi Tapi juga pada Dini.Orang yang paling ia percaya.
Ponselnya bergetar berkali-kali di sampingnya. Nama Dini muncul di layar. Alana memejamkan mata, lalu membalik ponsel itu menghadap ke bawah.
“Lo nutupin semua ini dari gue
Gue keliatan selemah apa sih sampai harus dilindungi dengan kebohongan?”
Pintu kamarnya diketuk pelan.
“Al” suara Dini terdengar ragu.
“Gue tau lo marah. Tapi tolong buka pintunya.”
Tak ada jawaban.
Alana menarik lutut ke dada, memeluk dirinya sendiri. Tangisnya semakin pelan, berubah jadi sesenggukan yang menyakitkan.
Ia teringat setiap momen ketika Dini tersenyum biasa padahal menyimpan rahasia besar. Setiap alasan urusan penting. Setiap kebohongan kecil yang ternyata melindungi luka besar.
“Kenapa gue selalu jadi orang terakhir yang tau?” bisiknya lirih.
Di balik pintu, Dini bersandar lemah. Matanya basah.
“Gue minta maaf, Al,” ucapnya pelan, hampir berbisik.
“Gue cuma takut lo kenapa-kenapa.”
Di dalam kamar, Alana memejamkan mata.Ia tak membenci Dini.
Tapi saat ini, ia belum sanggup bicara.
Malam itu, dua sahabat terpisah oleh pintu yang sama satu terluka karena dibohongi,satu lagi dihantui rasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama,
Alana merasa sendirian di tengah orang yang sebenarnya ingin menjaganya.
Alana benar-benar kecewa berat.
Bukan kecewa yang meledak dengan amarah,tapi kecewa yang diam, yang menghujam pelan dan menetap lama.
Ia duduk di tepi ranjang dengan mata kosong. Air matanya sudah habis, tapi dadanya masih terasa sesak. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia genggam sepenuhnya.
Yang paling menyakitkan bukan hanya Verdi yang pergi tanpa penjelasan.
Tapi kenyataan bahwa orang-orang terdekatnya memutuskan untuk tidak jujur padanya.
“Gue bodoh ya ” gumamnya lirih.
“Sampai semua orang ngerasa gue nggak cukup kuat buat tau kebenaran.”
Alana menyeka wajahnya perlahan.
Tangannya gemetar, bukan karena marah melainkan karena hatinya remuk.
Ia merasa dikhianati dua kali oleh Verdi, yang memilih menghilang,oleh Dini, yang memilih menyembunyikan alasan.
Dan yang paling pahit semuanya dilakukan atas nama melindungi.
“Kalau emang mau jaga gue,” bisiknya pelan,“kenapa caranya harus ninggalin?”
Alana berbaring menghadap dinding.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
