Enam puluh satu

17 7 0
                                        

Keesokan paginya, suasana warung seblak terasa aneh.

Pagi itu Alana dan Dini tiba lebih awal. Rolling door dibuka, kursi disusun, kompor mulai menyala. Semua berjalan seperti biasa tapi ada satu hal yang terasa janggal.

Tidak ada Raka.Tidak ada Verdi.Tidak ada Arkana.Tidak ada suara bercanda berlebihan.Tidak ada gitar di kursi favorit.

Tidak ada tatapan dari sudut warung.

Alana sempat menoleh ke pintu beberapa kali, refleks. Lalu ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri, seperti menertawakan kebiasaan lama.

“Sepi ya,” kata salah satu karyawan sambil menuang kuah.

Dini melirik ke luar warung, lalu menjawab santai,

“Tenang aja, nanti juga rame.”

Alana fokus ke pekerjaannya. Tangannya cekatan, pikirannya berusaha tetap di sini di panci, di pesanan, di suara pelanggan yang mulai berdatangan.

Siang menjelang, warung mulai ramai. Pelanggan datang silih berganti, sebagian wajah lama.

“Eh, hari ini abang gitar itu enggak ada?”

“Yang sering duduk pojok mana, Kak?”

“Biasanya rame soalnya”

Alana hanya tersenyum tipis.

“Mungkin lagi sibuk.”

Jawaban itu keluar ringan, tanpa sesak di dada.

Di sela kesibukan, Alana menyadari sesuatu,tanpa mereka bertiga pun, ia tetap berdiri.Warung tetap berjalan.Tawa tetap ada.Dan hidup ternyata tidak berhenti menunggu siapa pun.

Alana mengaduk kuah, uap panas naik ke wajahnya.Dalam hati, ia berbisik

Kalau mereka datang lagi, gue siap.

Kalau nggak pun gue juga baik-baik saja.

Dan pagi itu, di tengah aroma seblak dan riuh pelanggan,Alana memilih melanjutkan harinya dengan tenang.

Hingga siang hari, keadaannya tetap sama.Matahari sudah tinggi. Warung seblak penuh oleh suara piring, tawa pelanggan, dan pesanan yang datang bertubi-tubi. Tapi satu hal tidak berubah sejak pagi tadi.Raka tidak muncul.Verdi tidak datang.Arkana pun tidak terlihat.

Alana beberapa kali tanpa sadar melirik kursi favorit di pojok warung kosong. Tidak ada gitar bersandar, tidak ada suara petikan senar, tidak ada obrolan santai yang biasanya mengisi jeda sibuk.

“Sepi ya, beda dari biasanya,” celetuk pelanggan siang itu.

“Iya, biasanya rame drama,” timpal yang lain sambil tertawa.

Alana ikut tersenyum kecil.

“Lagi pada sibuk mungkin.”

Nada suaranya tenang. Tidak ada getir. Tidak ada kecewa yang ingin disembunyikan.

Dini memperhatikan Alana dari balik kasir. Ia tahu, di balik ketenangan itu ada banyak hal yang sudah Alana lewati. Dan mungkin, justru ketenangan inilah hasilnya.

Siang semakin terik. Pesanan terus datang. Karyawan mondar-mandir. Warung tetap hidup, meski tanpa kehadiran tiga nama yang belakangan sering mengisi hari-hari Alana.

Saat jeda sejenak, Alana duduk sebentar, mengusap keringat di dahinya. Ia menatap jalanan di depan warung lalu mengalihkan pandangannya lagi.Tidak menunggu.

Tidak mencari.Untuk siang itu,

Alana memilih fokus pada apa yang ada di depannya dan membiarkan yang tidak hadir tetap menjadi jarak.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang