duapuluh delapan

47 32 1
                                        

Pagi itu, matahari baru saja muncul, cahayanya menembus tirai kontrakan Alana. Udara masih segar, tapi suasana hati Alana sedikit campur aduk. Semalam terasa begitu aneh—nyaman tapi juga bikin jantung gak tenang.

Beberapa jam berlalu. Warung mulai buka, pelanggan mulai datang. Di tengah kesibukan itu, Alana sempat memperhatikan Verdi yang sedang membantu salah satu karyawan.
Entah kenapa, meski sering ribut, ada sisi Verdi yang terasa… nyaman.

Tapi sebelum pikirannya melayang jauh, suara Verdi memecah lamunannya.
“Ngapain bengong? Kangen debat sama gue ya?”

Alana langsung menatap tajam. “Lo mau gue siram kuah seblak panas?”
“Wah, ancamannya makin sayang nih.”

“VERDI!”

Tawa Verdi pecah keras, sementara Dini dari dapur teriak,
“Udah, kalian nikah aja, biar gak ribut tiap pagi!”

Alana terdiam, wajahnya langsung memanas. Tapi Verdi hanya tersenyum kecil sambil melanjutkan pekerjaannya, seolah ucapan Dini barusan bukan bercanda… tapi sebuah doa kecil yang mungkin saja akan jadi nyata suatu hari nanti.

Dini yang melihat dari jauh cuma menggeleng sambil nyengir, berbisik kecil,
“Dari jauh aja udah kayak pasangan yang udah nikah lama.”

Dan pagi itu, meski diawali pertengkaran kecil, entah kenapa... semuanya terasa berbeda. Ada kehangatan baru antara Alana dan Verdi yang bahkan mereka sendiri mulai sadari — tapi sama-sama pura-pura nggak tahu.

Siang itu matahari sedang terik-teriknya. Warung seblak sudah mulai ramai dengan pelanggan yang datang silih berganti. Suara penggorengan dan aroma seblak pedas memenuhi udara. Di antara hiruk pikuk itu, Alana sibuk di dapur, sementara Verdi menata meja-meja di luar.

“Lana, ini kursinya gue pindahin biar ruangnya agak lega, ya,” ujar Verdi sambil menarik satu meja ke arah jendela.

Namun Alana langsung menoleh tajam. “Jangan! Kursi itu udah pas di situ. Kalau lo pindahin, nanti alurnya jadi aneh.”

Verdi mengangkat alis. “Tapi, Lana, kalo gini sempit. Pelanggan aja tadi hampir nyenggol meja waktu lewat.”

“Udah, gue bilang jangan ya.” Suara Alana sedikit ketus.

Verdi menarik napas, menahan diri untuk nggak membalas dengan nada tinggi. “Gue cuma mau bantu, Lana.”

“Tolongnya tuh disesuaikan sama cara kerja orang lain,” sahut Alana tanpa menatapnya, sibuk mengaduk seblak di wajan.

Verdi mendecak pelan. “Keras kepala banget sih, lo…” gumamnya lirih tapi masih cukup terdengar.

“Apa tadi?” tanya Alana, menatap dengan mata menyipit.

“Nggak, nggak apa-apa. Takut aja kalo ngomong salah, nanti disiram kuah seblak panas,” jawab Verdi sarkastik sambil nyengir setengah.

Alana menahan tawa tapi tetap berusaha terlihat cuek. “Bagus, sadar diri.”

Mereka pun lanjut kerja dengan diam-diam tapi saling melirik. Walau sering adu mulut, dalam hati Verdi justru makin kagum dengan semangat Alana yang nggak pernah padam.
Sementara Alana, meski kesal dengan sifat usil Verdi, diam-diam ngerasa... warung terasa lebih hidup sejak kehadiran dia.

Sampai sore menjelang, mereka masih sibuk, tapi suasana perlahan mencair. Saat Alana menaruh papan menu di depan, tiba-tiba Verdi bantuin tanpa disuruh.
“Gue tau lo nggak suka dibantah, tapi boleh kan gue bantu tanpa disuruh?” katanya lembut.

Alana menatapnya sejenak, lalu berkata pelan,
“Boleh. Tapi jangan bikin ribut lagi.”

Verdi tersenyum. “Deal. Asal lo juga jangan keras kepala terus.”

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang