Keesokan paginya, warung seblak kembali dibuka.Udara masih sejuk, pelanggan belum terlalu ramai. Alana sibuk menata bahan, sementara Dini memperhatikannya dari kejauhan. Ada sesuatu yang berubah bukan sikap yang mencolok, tapi aura.
“Kamu kelihatan lebih ringan,” ujar Dini sambil menuang air.
Alana tersenyum kecil. “Mungkin karena tidurku cukup.”
Dini tidak bertanya lebih jauh. Ia memilih percaya pada senyum itu.
Tak lama kemudian, Verdi datang seperti biasa. Tidak berlebihan, tidak mencuri perhatian. Ia duduk di tempat favoritnya, memesan minuman, lalu menunggu dengan sabar.
Saat Alana mengantar pesanannya, tangan mereka hampir bersentuhan. Hanya sedetik. Tapi cukup membuat keduanya saling menunduk, tersenyum tipis.Tak ada yang tahu.Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Di luar warung, Arkana berdiri sejenak sebelum akhirnya melangkah pergi. Tatapannya tidak marah, tidak tajam hanya diam, penuh pertimbangan. Ia melihat Alana tertawa kecil di balik etalase, lalu menghela nafas panjang.
Beberapa perasaan memang tidak harus dimiliki untuk bisa diterima.Hari itu berlalu dengan sederhana.Tanpa konflik.Tanpa ancaman.Hanya orang-orang yang perlahan belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu diumumkan.kadang cukup dijaga.
***
Hari-hari berikutnya mengalir pelan, seperti air yang tak ingin tergesa sampai muara.Warung seblak kembali menjadi saksi rutinitas yang sama. Asap kuah mengepul, tawa pelanggan sesekali pecah, dan Alana bekerja dengan ritme yang kini terasa lebih ringan. Sesekali, tanpa sadar, ia melirik ke arah kursi favorit itu dan hampir selalu, Verdi ada di sana. Tidak selalu lama, tidak selalu berbincang. Kadang hanya duduk, menyeruput minuman, lalu pergi dengan anggukan kecil.
Hubungan yang disembunyikan itu justru terasa jujur.Dini semakin sering memperhatikan. Bukan dengan curiga, melainkan dengan naluri seorang sahabat. Ia menangkap tatapan singkat yang terlalu hangat, senyum yang muncul tanpa alasan, dan jeda-jeda kecil yang tak biasa. Namun Dini memilih diam. Ia tahu, jika saatnya tiba, Alana akan bicara.
Sore itu, hujan turun tipis bukan hujan yang memaksa orang berteduh, hanya cukup untuk membasahi jalan dan menenangkan udara. Pelanggan berkurang. Warung jadi lebih sunyi.
Verdi berdiri hendak pulang. Saat melewati Alana, ia berucap pelan, nyaris seperti bisikan, “Jangan lupa makan.”
Alana mengangguk, matanya menunduk. “Kamu juga.”
Tak ada yang melihat atau mungkin ada, tapi memilih tidak peduli.
Di luar, Arkana melintas dengan motornya, memperlambat laju sejenak saat melihat warung itu. Ia tidak berhenti. Tidak masuk. Hanya menoleh sekilas, lalu melaju lagi. Ada keputusan yang belum selesai di kepalanya, tapi ia belum siap mengatakannya pada siapa pun.
Malam datang perlahan.Di kontrakan, Alana merebahkan tubuhnya setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar pesan singkat dari Verdi.
“Hari ini kamu capek?”
Alana tersenyum, mengetik balasan singkat.
“Sedikit. Tapi rasanya cukup.”
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
“Istirahat. Aku ada disini, walau nggak kelihatan.”
Alana memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kalimat itu tidak terdengar sebagai janji kosong.
Di luar sana, kota tetap ramai dengan urusannya masing-masing.
Namun di antara dua hati yang memilih diam,ada ketenangan yang tumbuh perlahan tanpa perlu disuarakan,
tanpa perlu dibuktikan.
Hari berikutnya datang tanpa tanda apa pun yang istimewa, tapi justru itulah yang membuatnya terasa berbeda.
Pagi masih muda saat Alana membuka warung seblak. Udara sejuk, jalanan belum terlalu ramai. Dini datang menyusul tak lama kemudian, membawa dua gelas air mineral dan ekspresi santai seperti biasa. Tidak ada pertanyaan, tidak ada selidik hanya obrolan ringan tentang bahan yang hampir habis dan pelanggan langganan yang mungkin datang siang nanti.Namun Alana tahu, Dini memperhatikan.Menjelang siang, Verdi tidak muncul. Kursi favorit itu kosong lebih lama dari biasanya. Alana beberapa kali melirik ke arah sana, lalu kembali sibuk mengaduk kuah seblak, seolah rasa yang ia cari ada di dasar panci.
“Kalau nungguin, nanti capek sendiri,” ucap Dini tiba-tiba, tanpa menoleh.
Alana terdiam sejenak. “Aku nggak nunggu siapa-siapa.”
Dini tersenyum kecil. “Aku juga nggak nanya.”
Alana tersenyum balik, lemah.
Sore menjelang, langit menguning. Saat itulah Verdi akhirnya datang. Tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan warung sebentar, menatap Alana yang sedang melayani pelanggan lain. Tatapan itu cukup singkat, tapi penuh arti seperti memastikan sesuatu masih ada di tempatnya.
Setelah pelanggan pergi, Verdi mendekat. Tidak berlebihan. Tidak mencuri perhatian.
“Kopi?” tanya Alana.
Verdi menggeleng. “Hari ini cukup lihat kamu dan secangkir susu hangat.”
Alana hampir tertawa, tapi menahannya. Dini yang mendengar hanya menghela nafas pelan, lalu pura-pura sibuk mengelap meja.
Mereka duduk berhadapan. Tidak bersentuhan. Tidak saling mengaku apa-apa. Tapi jarak itu terasa aman, seolah keduanya sepakat tidak semua hal harus diumumkan ke dunia.
Di sudut lain warung, Arkana datang menjelang magrib. Sikapnya sama ramah, sopan, seolah tak pernah ada apa pun. Ia memesan seblak, duduk, dan menunggu. Sesekali matanya bertemu dengan mata Alana, lalu ia tersenyum.
Alana membalas senyum itu. Bukan senyum yang sama seperti untuk Verdi. Lebih netral. Lebih hati-hati.
Arkana mengerti atau setidaknya, ia mulai mengerti.Malam turun. Lampu warung menyala. Pelanggan mulai berkurang satu per satu. Saat hampir tutup, Verdi berdiri lebih dulu.
“Aku pulang,” katanya pelan.
Alana mengangguk. “Hati-hati.”
Verdi melangkah pergi, tapi berhenti sebentar di depan warung. Ia menoleh, memastikan Alana masih berdiri di sana. Setelah itu, barulah ia benar-benar pergi.
Dini memperhatikan semua itu dalam diam.
Saat warung benar-benar tutup dan mereka bersiap pulang, Dini akhirnya bicara, suaranya ringan tapi jelas.
“Al apapun yang kamu pilih, aku cuma mau kamu tenang. Bukan bahagia yang ribut. Tapi yang bikin kamu bisa napas.”
Alana menatap sahabatnya lama, lalu memeluknya tiba-tiba.
“Aku lagi belajar napas, Din,” bisiknya.
Dini membalas pelukan itu. “Yaudah. Aku di sini kalau kamu kehabisan udara.”
Malam kembali sunyi.Dan di antara diam, tatapan, serta kata-kata yang tak diucapkan,Alana tahu
ceritanya belum selesai,
tapi untuk pertama kalinya,
ia tidak takut melanjutkannya
Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksinya,satu saran dari kalian sangat bermanfaat bagi penulis
Jangan lupa follow vote and komen nya gays💙💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Teen Fiction📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
