Hari ini di ruang rawat Raina, mesin-mesin medis berbunyi cepat, ritmenya tak biasa lebih tajam, lebih mendesak. Lampu indikator berkedip-kedip, seolah ikut panik.
Seorang perawat bergegas masuk, disusul dokter yang langsung memeriksa monitor.
“Tekanan turun,” ucapnya singkat. “Siapkan tindakan.”
Di sudut ruangan, Verdi berdiri kaku. Tangannya gemetar, nafasnya tertahan. Setiap bunyi terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Ia mendekat, menatap wajah Raina yang pucat terlalu tenang untuk situasi sekeras ini.
“Raina” bisiknya lirih, hampir tak terdengar di tengah hiruk-pikuk alat medis.
“Aku di sini.”
Namun tak ada jawaban. Hanya mesin yang terus berbunyi, cepat, berkejaran dengan waktu.
Dokter menoleh singkat. “Keluarga pasien harap menunggu di luar.”
Verdi melangkah mundur, seperti ditarik paksa. Pintu ditutup. Kaca buram memantulkan bayangannya sendiri kusut, penuh penyesalan.
Di koridor, ia menunduk, kedua tangannya menutup wajah.
“Aku nggak pernah minta ini,” gumamnya. “Aku cuma ingin semua baik-baik aja.”
Ponselnya bergetar di saku, tapi ia tak melihatnya. Dibenaknya, hanya satu nama yang terus terngiang Alana. Wajah Alana. Tatapan kosong itu. Diam yang lebih tajam dari teriakan.
Sementara di balik pintu, mesin terus berbunyi cepat.Dan di antara bunyi itu, waktu seakan menahan napas.
Kepanikan di dalam ruang rawat kian menjadi.
“Tekanan makin turun!”
“Siapkan oksigen, sekarang!”
Suara dokter dan perawat saling bersahutan, bertabrakan dengan bunyi mesin yang semakin cepat dan nyaring. Monitor jantung Raina memantulkan garis yang naik-turun tak beraturan.
Lampu-lampu kecil berkedip, seolah memberi peringatan yang tak bisa ditawar.
“Raina, dengar saya.”
Dokter menepuk ringan pipinya, matanya tak lepas dari layar. “Bertahan.”
Di luar ruangan, Verdi mondar-mandir di lorong sempit. Tangannya terus mengepal lalu terurai, berulang kali. Setiap detik terasa seperti jam. Setiap bunyi menembus dinding, menusuk kepalanya.
Ia berhenti tepat di depan pintu, menempelkan telapak tangan ke kaca dingin.
“Ya Allah” suaranya pecah. “Tolong cukup aku aja yang nerima semua akibatnya.”
Ketegangan hari itu menggantung berat di udara rumah sakit. Lorong yang biasanya ramai kini terasa sunyi, hanya ada langkah cepat perawat dan bunyi roda brankar yang sesekali lewat. Wajah-wajah tegang, tak ada senyum, tak ada basa-basi.
Seorang dokter lain datang tergesa.
“Kondisinya kritis. Kita coba stabilkan.”
Kalimat itu membuat lutut Verdi melemas. Ia terduduk di kursi plastik, menunduk dalam-dalam. Napasnya berat, dadanya sesak, seolah dunia menyempit hanya pada satu titik pintu ruang rawat itu.
Di dalam, mesin terus berpacu dengan waktu.Di luar, Verdi menunggu dengan rasa bersalah yang menekan, berharap untuk pertama kalinya takdir mau sedikit berbelas kasih.
Langkah kaki berat terdengar di ujung lorong.Verdi mengangkat kepala dan dadanya langsung mengeras.Orang itu.
Laki-laki yang waktu itu memukulnya di rumah sakit berdiri tak jauh dari pintu ruang rawat. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, matanya merah oleh amarah yang belum padam bercampur ketakutan yang ia sembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
