Pagi itu warung seblak terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa pelanggan yang datang untuk sarapan ringan. Alana dan Dini duduk di depan meja sambil memilah cabai, mata Alana sesekali menatap ponselnya—masih tidak ada kabar dari Verdi.
Menjelang siang, keadaan berubah total. Suara motor anak sekolah, mahasiswa, sampai ibu-ibu mulai memenuhi sekitar warung. Karyawan sibuk hilir–mudik membawa pesanan.
Di tengah keramaian itu, pertanyaan yang sama terus muncul.
Pelanggan 1 (Gen Z, sambil live tiktok):
“Guys… serius, di mana sih abang barista yang kemarin nyanyi itu?? Kok nggak ada?
Kak Alana, Verdi-nya mana?”
Alana tersenyum kaku. “Lagi… ada urusan.”
Pelanggan 2 (cowok SMA, sambil nunggu pesanan):
“Kak, itu mas-mas yang suka main gitar mana? Yang suaranya kayak penyanyi indie itu loh.”
Dini nyeletuk dari belakang, “Yang suaranya fals dikit itu?”
Cowoknya ngakak. Alana cuma geleng-geleng. “Dia lagi nggak bisa datang.”
Pelanggan 3 (cewek kuliahan):
“Kak, biasanya kalo aku makan di sini tuh ada vibes-nya karena ada Verdi. Sekarang kok sepi ya…”
Alana memaksa tersenyum.
Pelanggan 4 (ibu-ibu):
“Itu anak tinggi yang suka becandain mbak-mbak ini mana? Tumben nggak keliatan.”
Alana mencolek Dini pelan.
Dini langsung sahut, “Ibu, itu namanya Verdi.”
Ibu-ibu itu ngangguk dramatis. “Ahh sayang sekali. Biasanya rame liat dia ngedeketin mbak Alana.”
Alana hanya bisa menghela nafas panjang.
Pelanggan 5 (rombongan anak sekolah):
“Kak, abang yang waktu itu mana? Yang sering nyanyi.”
Dini ngakak. Alana hampir mau menutup wajahnya.
“Lagi pergi,” jawabnya pendek.
Pelanggan 6 (yang baru datang):
“Kak, hari ini nggak ada show gitar-nya Verdi?”
Alana cuma menatap kosong.
“…ini warung seblak, bukan panggung musik.”
Pelanggan 7 (cewek rame-rame):
“Kak, serius deh, kita tuh balik ke sini gara-gara vibes Alana & Verdi. Kok sekarang hampa banget sih.”
Dini menatap Alana sambil menahan tawa.
Alana cuma bilang lirih, “Maaf ya… dia belum bisa datang.”
Bulir di mata Alana jatuh setiap mendengar nama verdi.
Suasana makin ramai, suara orderan campur tawa pelanggan mengisi udara. Tapi Alana justru terasa gelisah.
Di tengah hiruk-pikuk itu pikirannya hanya satu
“Verdi… lo kemana sebenarnya?”
Sementara itu Dini yang melihat ekspresi Alana terus menyenggolnya pelan.
“Al, gue serius… kalo Verdi nggak balik-balik, kita bakal ditanya sampe pensiun nih.”
Alana hanya menatap mangkok seblak panas di tangannya, lalu tanpa sadar berbisik
“Gue kangen ribut sama dia…”
Sore itu, matahari mulai meredup, menyisakan cahaya jingga yang menempel di dinding warung seblak. Alana sedang mengaduk kuah pesanan pelanggan ketika Dini memanggilnya pelan.
“Al, istirahat dulu. Tadi siang kamu nggak berhenti masak,” ucap Dini sambil mengusap keringat di dahinya.
Alana hanya tersenyum kecil.
“Nggak apa-apa, Din. Ramai juga karena mereka nanyain Verdi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
