ada cemburu tipis, ada klaim jujur, dan tawa yang pecah tanpa drama.
Keramaian belum juga surut. Sepuluh motor itu seperti membawa gelombang sendiri suara tawa, kursi bergeser, pesanan bersahutan. Warung seblak nyaris penuh sesak.
Beberapa cowok yang baru datang teman Verdi yang belum sempat bertemu Alana dan Dini sebelumnya mulai terlalu santai.
Salah satunya bersandar di meja kasir, senyum dibuat semanis mungkin.
“Teh, seblaknya satu. Yang masaknya ikut nggak?”
Yang lain menimpali, matanya berpindah dari Alana ke Dini.
“Kalau dua cantik begini, susah milih.”
Alana refleks mundur setengah langkah.
“WOY.”
Suara Verdi terdengar tegas dari arah kursi.
Semua langsung menoleh.
Verdi sudah berdiri. Wajahnya memerah, bukan marah lebih ke campuran malu dan protektif. Tangannya menyelip di saku jaket.
“Udah ada yang punya,” katanya blak-blakan. “Jangan lo ganggu.”
Hening.Satu detik.Dua detik.
Lalu
“HAHAHAHA!”
Seluruh warung meledak tawa.
“WAHH VERDI KLAIM!”
“MERAH ATAU CEMBURU LO VER!”
“FIX INI BUKAN CUMA NONGKRONG!”
Alana membeku sesaat, lalu wajahnya ikut memanas.Dini menutup mulutnya, menahan tawa.
Cowok yang tadi menggoda mengangkat tangan. “Siap, Bang. Mundur.”
Verdi menggaruk tengkuk, masih merah. “Bercanda, tapi serius.”
Tawa makin keras.Faris yang berdiri tak jauh dari situ memperhatikan dengan senyum tipis.
“Gila,” gumamnya. “Lo berubah jauh, Ver.”
Verdi melirik. “Berisik.”
Alana akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Verdi. Tatapan mereka bertemu.Tidak ada kata.Tapi ada rasa aman yang mengalir begitu saja.
Dini menyenggol Alana pelan. “Tuh kan.”
“Apa?” Alana berbisik.
“Yang punya nyali sekarang bukan cuma
Faris,” jawab Dini sambil tersenyum jahil.
Faris mendengarnya. Ia mendesah pelan, lalu tertawa kecil.
“Ya ampun gue kalah jauh.”
Keramaian kembali berjalan seperti biasa. Tapi ada satu hal yang berubah.Bukan hanya semua orang tahu siapa Alana bagi Verdi Tapi juga, tanpa disadari,
Dini kini tahu bagaimana rasanya
diperjuangkan secara terang-terangan.
Dan Faris Untuk pertama kalinya,
tidak ingin mundur lagi.
Tawa perlahan mereda. Warung kembali dipenuhi suara sendok, panci, dan obrolan yang saling tumpang tindih. Tapi sesuatu sudah berubah udara terasa lebih hangat, lebih hidup.
Verdi kembali duduk, masih dengan wajah yang agak merah. Salah satu temannya menepuk pundaknya keras-keras.
“Gokil sih lo. Langsung pasang badan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Storie d'amore📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
