Sembilan puluh satu

7 3 0
                                        

Malam itu lampu-lampu tampak buram.Mata Alana basah,tapi ia tidak berhenti.

Pikirannya penuh,tentang Verdi,tentang dirinya yang selalu merasa datang di waktu yang salah.
Ia tidak melihat truk itu.tidak mendengar klakson panjang,hanya cahaya putih dan tubuh yang terlempar.

Di waktu yang sama,Verdi yang tengah duduk di ruang tamu rumah orang tuanya.

“Kamu pikirkan dulu,” kata ibunya.
“Tidak ada yang memaksa.”

Verdi mengangguk.
Pikirannya justru ke satu nama.Alana.

Ia mengambil ponsel,mengirim pesan
Al,kita ketemu besok ya. Aku mau jelasin semuanya.

Pesan terkirim,tapi tidak dibaca.

Verdi mengira Alana hanya butuh waktu.Ia tidak tahu bahwa di malam yang sama,Alana sedang terbaring di ruang IGD dengan nama yang nyaris tidak dikenali.

Keesokan pagi berita kecil muncul di tv.Kecelakaan mobil di jalan utama semalam. 

Korban perempuan, belum sadar.Verdi tidak membacanya.Ia sibuk meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Verdi tahu bukan dari rumah sakit,
bukan dari polisi,bukan dari siapa pun yang dekat,Ia tahu dari warung kopi kecil dekat terminal,saat televisi tua menyiarkan berita singkat.

“Korban kecelakaan tunggal masih dalam kondisi koma. Identitas belum diketahui,tapi katanya sih pemilik warung seblak.”ujar salah satu orang di sana. 

Gambar buram itu muncul sebentar. Tapi Verdi mengenali jaketnya,tangannya gemetar,cangkir kopi terlepas.

“Pak… itu kapan?” suaranya serak.

“Semalam,” jawab penjaga warung.

Verdi pergi begitu saja menuju rumah sakit,Verdi berlari, bertanya ke sana kemari,sampai seorang perawat mengangguk pelan.

“Kecelakaan motor. Perempuan. Mas kenal?”

Verdi tidak langsung menjawab.Dadanya sesak.
“Iya,” katanya akhirnya.

 Alana terbaring tanpa suara.
wajahnya pucat.tangannya penuh selang.

Verdi berdiri di samping ranjang,tidak berani menyentuh.

“Aku di sini,” bisiknya.“Maaf aku telat.”

Ia duduk.berjam-jam,ia berbicara tentang hal-hal kecil tentang warung,tentang Dini dan Faris,tentang hal-hal yang tidak sempat ia katakan.

“Aku nggak jadi dijodohkan,” katanya suatu malam.

“Aku cuma mau kamu tahu aku milih kamu. Selalu.”

Alana tidak bergerak,menunggu tanpa Janji,Dokter berkata pelan,

“Kita tunggu. Bisa lama,bisa juga tidak.”

Verdi mengangguk,Ia tidak pergi,ia tidur di kursi,makan seadanya,menunggu bukan sebagai pacar,bukan sebagai penuntut.
Tapi sebagai orang yang mencintai tanpa syarat.

Pagi itu sunyi.Verdi tertidur di kursi
saat ia mendengar suara kecil.Ia terbangun,mata itu terbuka.

“Alana…” napas Verdi tercekat.

Perawat datang cepat.Dokter segera memeriksa.

“Kondisinya stabil,” kata dokter. “Tapi ada kemungkinan.”

Verdi menatap penuh harap.

“…dia kehilangan sebagian ingatan.”

Yang tidak dikenali Alana menoleh perlahan,tatapannya jatuh pada Verdi.

“Mas… siapa?” tanyanya pelan.

Kalimat itu lebih menyakitkan
dari semua  yang pernah mereka lalui.

Verdi tersenyum senyum paling berat yang pernah ia buat.

“Aku Verdi,” katanya lembut.
“Teman kamu.”

Alana mengangguk pelan.
“Oh.”

Hanya itu,pilihan Verdi
Di luar ruangan, Verdi duduk sendiri.
Ia bisa pergi.tidak ada yang memaksa.

Tapi ia kembali masuk,duduk di kursi yang sama,nada suara yang sama.

“Tenang,” katanya pelan.

“Kita kenalan pelan-pelan.”

Karena cinta sejati bukan tentang diingat,tapi tentang tetap tinggal meski dilupakan.

Wajah-wajah asing, Pagi itu, pintu kamar rawat dibuka perlahan.Dini masuk lebih dulu,tangannya menggenggam bunga kecil yang dibelinya di depan rumah sakit.
Faris menyusul, langkahnya ragu.

Alana terbaring dengan mata setengah terbuka,wajahnya lebih tenang,tapi asing.

“Al” suara Dini bergetar.

“Kamu inget aku?”

Alana menoleh.

Ia menatap Dini cukup lama,mencari sesuatu di wajah itu.

Lalu menggeleng pelan.

“Maaf,kamu siapa, apakah kita kenal?”

Kalimat itu membuat Dini berhenti bernapas.Yang tidak bisa dijelaskan

Faris menunduk,tangannya mengepal.

“Ini aku, Faris,” katanya pelan.

“Dulu sering ke warung seblak,aku teman verdi,suami Dini”

Alana mencoba tersenyum sopan.

“Oh. Maaf ya aku nggak inget.”

Dini memalingkan wajah.Air matanya jatuh diam-diam.
Verdi berdiri di dekat jendela.
Ia tidak ikut bicara.Ia sudah lebih dulu hancur semalam.
Percakapan Paling Berat

“Gapapa,” Dini akhirnya bicara,
memaksa senyum.
“Yang penting kamu bangun.”

Alana mengangguk.
“Kalian baik.”

Kalimat itu polos,terlalu polos untuk orang-orang yang dulu tahu seluruh lukanya.

Faris menepuk bahu Dini pelan Isyarat untuk keluar,sebelum pergi, Dini menoleh sekali lagi.

“Kalau suatu hari kamu ngerasa
ada orang yang bikin kamu tenang tanpa sebab,mungkin itu kami.”

Alana mengangguk,tidak sepenuhnya mengerti.

Di lorong rumah sakit, begitu pintu tertutup,Dini menangis tanpa suara.

“Aku nggak dikenalin…” bisiknya.
“Aku sahabatnya.”

Faris memeluknya erat.
“Ia masih hidup, Din,itu yang penting.”

Verdi menyusul keluar.Ia berdiri sebentar.
“Terima kasih sudah datang.”

Dini menatap Verdi.
“Kamu yang kuat  ya.”

Verdi menggeleng pelan.
“Aku cuma belum jatuh.”

Verdi kembali ke kamar Alana dan duduk lagi di kursinya.Alana menatapnya.

“Mas Verdi” katanya pelan.
“Kamu… orang terdekat aku?”

Verdi tersenyum kecil.
“Iya.”

“Kenapa?” tanya Alana polos.

Verdi menelan ludah.
“Karena kamu orang terpenting di hidup aku.”

Alana tidak mengingat.tapi entah kenapa hatinya terasa aman.dan itu sudah cukup untuk hari itu.

Mohon maaf kalau masih berantakan ya gays.Jika ada yang salah dalam penulisan mohon koreksinya,satu saran dari kalian sangat bermanfaat bagi penulis

Jangan lupa follow vote and komen nya gays💙💐

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang