Malam semakin turun perlahan, seolah kota ikut menahan napas.Angin membawa sisa aroma kuah seblak yang masih menggantung di udara, bercampur dengan bau aspal basah sisa hujan sore tadi.
Verdi akhirnya memetik gitar.
Bukan lagu hanya petikan pelan, terputus-putus, seperti hatinya yang sedang berbicara tanpa kata.
Alana sesekali melirik ke arahnya.
Tatapan itu singkat, tapi cukup untuk membuat dadanya hangat.
Ia tahu, Verdi ada di sana, tanpa harus selalu berada disisinya.
Dini memperhatikan dari balik etalase.
Ia tidak berkata apa-apa, tapi senyumnya kecil senyum seseorang yang akhirnya mengerti segalanya tanpa perlu penjelasan.
Satu per satu pelanggan pamit.
Warung mulai lengang.Lampu neon berdengung pelan, menyisakan keheningan yang terasa lebih jujur daripada keramaian sebelumnya.
Verdi berdiri, menghampiri meja kasir.
“Capek?” tanyanya singkat.
Alana mengangguk kecil.
“Tapi hari ini entah kenapa rasanya ringan.”
Verdi tersenyum, tapi matanya menyimpan sesuatu rasa khawatir yang belum berani diucapkan.
Di luar, tong sampah tempat bunga-bunga itu dibuang terlihat sunyi.Kelopaknya sedikit basah, layu sebelum sempat berarti apa-apa.
Dari balik gelap pepohonan, Arkana menatap pemandangan itu lama.
Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.Bukan bunga yang ditolak, batinnya.Tapi aku.
Ia melangkah pergi, bayangannya menyatu dengan malam.Namun langkah itu bukan langkah menyerah melainkan langkah seseorang yang merasa kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar ia miliki.
Sementara itu, Alana menurunkan rolling door warung.
Verdi berdiri di sampingnya, menjaga jarak
seperti dua orang yang saling mencintai, tapi memilih berhati-hati pada dunia.
Malam itu berakhir tenang.
Terlalu tenang.Dan justru karena itulah,
tak satupun dari mereka tahu
ketenangan ini adalah jarak terakhir sebelum badai benar-benar datang.
Pagi datang dengan langkah pelan, seolah enggan mengusik sisa-sisa malam yang belum benar-benar usai.
***
Langit cerah, tapi hati Alana tidak sepenuhnya seterang itu.
Warung seblak kembali dibuka.
Suara panci, tawa karyawan, dan aroma bumbu yang ditumis perlahan mengisi ruang rutinitas yang menenangkan, sekaligus menipu. Seakan semuanya baik-baik saja.
Namun hari itu terasa berbeda.
Alana beberapa kali melirik ke kursi favorit Verdi.Kosong.Tak ada gitar.Tak ada senyum kecil yang biasanya menyapa tanpa suara.
“Bang Verdi belum datang?” tanya salah satu pelanggan lama.
Alana hanya menggeleng.
“Belum.”
Jawaban singkat, tapi dadanya terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Menjelang siang, seorang kurir datang lagi.Kali ini bukan buket besar
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
