Tiga puluh enam

19 7 0
                                        

Pagi datang dengan cepat.
Alana bangun dengan mata bengkak, tubuh masih terasa berat setelah mimpi itu. Namun ia tetap memaksa tersenyum dan berangkat bersama Dini ke warung seblak.

Warung belum terlalu ramai saat mereka tiba. Karyawan sudah mulai menyiapkan bahan, dan Alana mencoba fokus pada pekerjaan, meski pikirannya masih melayang ke Verdi.

Saat ia sedang menata mangkuk di rak

“Pagi, Alanaaa…”Suara itu langsung bikin bahunya kaku.

Raka datang.Dengan gaya sok santai, tangan di saku, rambut sedikit berantakan tapi penuh percaya diri yang justru bikin Alana makin sebel hari ini.

“Tumben lo datang pagi,” gumam Dini pelan.

Raka menatap Alana dan tersenyum lebar, seperti tidak ada yang salah.

“Apa kabar, Al? Gue yakin lo kangen gue, ya?” Nada godaannya ngalor-ngidul seperti biasa.

Alana hanya menarik nafas panjang. “Raka, gue lagi kerja.”

“Kerja sambil senyum gitu boleh dong?”
Raka nyengir, bahkan nyelipin wajahnya sedikit lebih dekat.

Alana langsung mundur setengah langkah. “Lo ganggu, sumpah.”

Raka malah ketawa pelan. “Kesel itu tanda kangen, Al.”

Plak. Dini langsung ngelempar tisu gulung ke kepala Raka.

“Berisik,” katanya datar. “Jangan ganggu orang lagi banyak pikiran.”

Raka memegang kepalanya dramatis. “Sakit, Din! Lo pikir kepala gue besi?”

“Yah bagus kalau penyok,” balas Dini.

Karyawan lain menahan tawa.

Alana hanya menghela napas panjang—yang keseratus kalinya pagi itu.
Dalam hatinya:

“Hidup gue udah cukup ribet… dipoles Raka jadi makin chaos.”

Raka mendekat lagi sambil melipat tangan. “By the way, Allo keliatan beda. Seminggu ini lo pikirin siapa, sih? Gue?”

“Terserah lo mau halu apa,” jawab Alana lelah.

Tapi jantungnya sedikit mencelos, karena nama yang muncul di kepalanya hanya satu: Verdi.

Raka tidak sadar, ia tetap menggoda seakan dunia baik-baik saja.
Dan Alana, yang semula kosong karena kehilangan kabar Verdi, kini justru jadi kesel tingkat nasional karena kehadiran Raka.

Warung mulai ramai. Alana mencoba fokus melayani pembeli, namun Raka terus saja ribut: nanya ini itu, nyodorin bantuan yang tidak perlu, bahkan memindahkan kursi hanya karena katanya “biar Alana lewat lebih nyaman”.

Hari ini benar-benar dimulai dengan drama.

Mau lanjut adegan sore hari, Raka makin ganggu atau ada kejadian lain?

Sore itu, warung seblak mulai benar-benar ramai. Hujan rintik turun, bikin banyak anak muda mampir untuk makan yang pedas dan hangat.

Di tengah keramaian, Raka masih saja menempel kayak stiker di buku tulis.membuat Alana makin suntuk.

Alana sedang mengaduk kuah seblak besar uap panas memenuhi wajahnya. Dia sibuk, konsentrasi tinggi karena pesanan datang bertubi-tubi.

Dan tiba-tiba…

“Hai, Al.” Raka nongol di sebelahnya. Lagi.
Dengan senyum centil, tangan nyelonong ambil mangkuk.

Alana memejamkan mata sejenak. “Ya Allah… kenapa dia belum pulang?”          “Lo mau ngapain?” tanya Alana datar.

Hujan Dan Lukanya Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang