Saat Alana melangkah keluar dari warung seblak, angin sore menerpa wajahnya. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, di depan sudah ada Verdi dengan motornya, duduk santai sambil memainkan ponselnya.
Begitu melihat Alana keluar, Verdi menyimpan ponselnya dan memasang smirk khasnya. "Gue kira lo bakal kabur lagi."
Alana melipat tangan di dada. "Ngapain juga gue kabur? Gue orang nya nepatin janji"
Verdi terkekeh sambil menghidupkan mesin motornya. "Bagus kalo sadar. Udah, naik."
Alana mendesah, tapi tetap naik ke motor Verdi. "Jadi kita mau ke mana?" tanyanya, sedikit penasaran.
Verdi melirik sekilas lewat kaca spion dan menjawab santai, "Udah ikut aja, lo bakal tau sendiri nanti."
Alana memutar mata. "Bisa gak sih lo kasih tau aja?"
Verdi hanya tertawa kecil dan langsung menjalankan motornya, membawa Alana entah ke mana. Di dalam hati, Alana merasa sedikit was-was. Apa sebenarnya yang Verdi rencanakan.?
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Alana mengernyit begitu melihat suasana di sekelilingnya lampu warna-warni, suara musik yang riang, dan tawa orang-orang yang berlalu-lalang.
"Pasar malam?" Alana menoleh ke Verdi dengan tatapan penuh tanda tanya.
Verdi turun dari motor dan mengangguk santai. "Ya. Gue kan udah bisikin ke lo kemarin, lo harus nemenin gue ke suatu tempat. Nah, ini tempatnya."
Alana menghela napas panjang. "Seriusan, Ver? Gue kira urusan penting. Ternyata lo cuma ngajak gue ke sini?"
Verdi memasang ekspresi tidak berdosa. "Ya, buat gue ini penting. Lagian lo kan punya 'utang' sama gue. Jadi, bayar utangnya dengan nemenin gue jalan-jalan."
Alana melipat tangan di dada, masih kesal. "Utang macam apa yang bisa dibayar dengan nemenin lo ke pasar malam?"
Verdi terkekeh. "Ya, ini bentuk pembayaran yang gue pilih. Lo mau nolak?"
Alana mendengus, tapi akhirnya menyerah. "Udah deh, terserah lo. Tapi jangan lama-lama."
Verdi tersenyum puas. "Santai aja. Mumpung lo di sini, sekalian aja lo nikmatin suasana."
Alana hanya bisa menghela napas lagi. Dia sebenarnya tidak menyangka akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Tapi ya sudahlah kalau ini bisa dianggap sebagai 'melunasi utang', maka lebih baik dia jalani saja.
Verdi, dengan semangatnya, langsung menarik tangan Alana menuju salah satu area permainan. "Ayo, kita main dulu sebelum naik wahana!"
Alana mendelik. "Ver, gue nemenin lo, bukan berarti lo bisa seenaknya nyeret-nyeret gue gini."
Verdi hanya terkekeh. "Udah, sekali-kali enjoy dikit, napa? Lo kebanyakan serius sih."
Tanpa menunggu protes lagi, Verdi membawa Alana ke permainan lempar gelang. "Nih, lo coba. Kalo bisa masuk ke botol, lo bakal dapet hadiah boneka."
Alana menatap permainan itu dengan skeptis. "Kayak gampang, tapi pasti susah."
"Makanya coba dulu, jangan kebanyakan protes." Verdi memberikan beberapa gelang ke tangan Alana.
Dengan ragu-ragu, Alana melempar satu gelang melenceng jauh. Verdi tertawa keras. "Ya ampun, Al! Lo lempar ke mana sih?"
"Diam lo!" Alana mencoba lagi, tapi tetap gagal.
Verdi, masih tertawa, akhirnya mengambil satu gelang dan dengan santai melemparkannya dan langsung masuk.
"Lihat? Segampang itu." katanya dengan bangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Roman pour Adolescents📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
