Setelah nenek itu pergi dan Alana puas usil ke Verdi, mereka memutuskan untuk mengakhiri malam dengan santai.
“Gimana kalau kita makan bakso dulu?”
tanya Alana sambil tersenyum nakal.
Verdi mengangguk, masih wajah merah karena malu tadi.
“Ya tapi jangan digodain terus”
Alana tertawa pelan. “Nggak janji. Tapi aku bakal biarin kamu makan dulu, baru aku godain lagi.”
Mereka berjalan ke gerobak bakso yang masih buka. Aroma kuah panas dan bakso kenyal menyelimuti udara malam.
“Seporsi bakso polos aja ya,” kata Verdi sambil menyerahkan uang.
Alana tersenyum, memilih bakso dengan bakso urat sedikit pedas, sambil menatap Verdi.
“Eh kamu serius makan polos aja? Kayak gitu nggak seru”
Verdi hanya menghela napas, tapi tersenyum kecil.
“Yaudah biarin kamu aja.”
Mereka duduk bersebelahan di bangku kayu. Sesekali jari mereka hampir bersentuhan saat mengambil sendok, tapi kali ini lebih santai, hangat.
Alana menatap kuah bakso panas di mangkuknya. “Malam ini lumayan kacau ya?”
Verdi mengangguk. “Lumayan tapi aku senang. Walaupun aku malu setengah mati.”
Alana menyenggol bahunya pelan. “Itu lucu, dan kamu tetep imut kalo malu-malu gini.”
Verdi tersenyum tipis, menatap Alana, lalu menyesap kuah bakso.
“Kayaknya malam ini sempurna. Meski sedikit kacau.”
Alana tertawa, menatap langit malam yang terlihat samar di atas lampu pasar.
“Betul. Kita bisa santai, makan bakso, ketawa dan tetap bahagia.”
Mereka makan perlahan, sesekali bercanda, sesekali saling menatap, menutup malam dengan hangat, manis, dan ringan seperti menutup sempurna setelah pasar malam yang kacau dan lucu.
Lampu-lampu pasar berkelap-kelip, aroma bakso dan jajanan malam masih menggantung, dan senyum mereka menjadi jejak hangat malam itu.
Di sisi lain kota, jauh dari lampu pasar malam dan tawa Alana-Verdi, Arkana berdiri di atap sebuah gedung tua.
Tangan terkepal di kepala, mata tajam menatap jauh ke arah pasar malam, tepat ke arah Verdi dan teman-temannya.
“Kenapa kenapa mereka bisa sebahagia itu?” gumamnya pelan, tapi nada suaranya bergetar antara marah dan frustasi.
Angin malam menyapu rambutnya, tapi tatapannya tetap tak lepas dari mereka.
Dia melihat Alana tertawa, Verdi tersenyum malu, Dini dekat dengan Faris semuanya tampak normal, hangat, dan bahagia.
Arkana menekuk bibirnya.
“Ini… nggak boleh mereka nggak boleh seenak itu,” ucapnya dengan suara rendah tapi tegas, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Tangan kanan masih terkepal, rahangnya menegang. Mata tajamnya menusuk bayangan malam.
Lampu kota berkelap-kelip, tapi tatapan Arkana seolah menyalakan api di malam itu.marah, cemburu, dan tekad yang membara.
Dan di atas gedung itu, di tengah sunyi dan angin malam, Arkana hanya berdiri.
Satu hal jelas malam yang hangat di pasar tidak akan bertahan lama jika Arkana tetap diam dan menatap mereka dengan rasa sakit itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
